Apa Pengertian dari Masjid?

Pertanyaan:

Lajnah Da’imah (Lembaga Tetap Fatwa Saudi Arabia) pernah ditanya, “Apa definisi mesjid, secara bahasa dan secara syar’i?”

Jawaban:

Mesjid, secara bahasa, adalah tempat sujud. Adapun secara syar’i, mesjid adalah tempat yang dipersiapkan untuk digunakan shalat lima waktu secara berjamaah oleh kaum muslimin.

Akan tetapi, terkadang mesjid mempunyai arti yang lebih luas dari itu. Karenanya, tempat yang dijadikan oleh seseorang di rumahnya untuk melaksanakan shalat sunnah atau shalat wajib karena dia tidak mampu untuk shalat di mesjid, yang orang-orang mendirikan shalat berjamaah di dalamnya, dinamakan mesjid pula.

Di antara dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari: 323 dan selainnya dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ وَ جُعِلَتْ لِي اْلأَرْضُ مَسْجِدًا وَ طَهُوْرًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلّ

“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku: aku dimenangkan dengan perasaan takut yang menimpa musuhku dengan jarak sebulan perjalanan, bumi dijadikan bagiku sebagai mesjid dan suci, siapa pun dari umatku yang menjumpai waktu shalat maka shalatlah….”

Sumber: Majalah Al-Furqon, edisi 5, tahun ke-4 1425 H.

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

    • Abu Hasnan Al Bantuly
    • Agustus 8th, 2010

    Syukron, selama ini ana salah paham , membedakan mushola (menurut pengertian kebanyakan orang indonesia) dengan masjid. ternyata sama.

    berikut tambahan artikel dari : konsultasisyariah.com

    syukron

    Abu Hasnan Al Bantuly

    Shalat di Mushalla atau Masjid?

    Pertanyaan:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    1. Rumah ana dekat dengan mushola (surau) dan tidak jauh dengan masjid, dimanakah sebaiknya ana shalat?
    2. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wassalam melarang shalat di masjid yang ada kuburannya, bagaimana hukum rumah yang berada disamping/gandeng sama kuburan?

    Jazakumullah khairan katsiran
    Wassalamu’laikum warahmatullahi wabarakatuh

    Jawaban:

    Wa’alaikumusalam warahmatullaahi wabarakaatuh

    Syaikh Al-’Utsaimin ketika menjelaskan tentang tempat mana yang lebih utama untuk shalat berjamaah dan membahas pendapat-pendapat seputar permasalahan ini akhirnya beliau berkesimpulan, “Pendapat yang benar ialah sesungguhnya yang lebih utama adalah hendaknya Anda shalat di masjid di dekat anda karena hal ini merupakan sebab pemakmuran masjid tersebut kecuali apabila masjid yang lebih jauh tersebut memiliki keistimewaan maka ia lebih diutamakan, seperti misalnya apabila anda berada di kota Madinah atau di Mekkah maka ketika itu yang lebih utama adalah anda shalat di Masjidil Haram apabila berada Mekkah dan di Masjid Nabawi apabila berada di Madinah, itulah yang lebih utama daripada shalat di masjid yang ada di dekat tempat tinggal anda.” Di bagian lain beliau juga mengatakan, “Maka kesimpulannya adalah yang lebih utama, Anda shalat di masjid setempat di mana Anda tinggal sama saja apakah jamaahnya banyak atau sedikit karena banyaknya manfaat yang timbul dengan menerapkan hal itu…” (Syarah Shalatil Jama’ah, hal. 29 dan 30 Darul Kutub ‘Ilmiyah).

    Pendapat serupa juga didukung oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam kitab beliau Mulakhash Fiqhi jilid 1 hal. 201, penerbit Darul ‘Ashimah. Dan yang dimaksud masjid dalam pengertian syariat adalah bangunan khusus yang didirikan untuk melaksanakan shalat dan mengingat Allah (Tafsir Al-Baghawi, Maktabah Syamilah, tafsir Surat Jin: 18). Maka termasuk dalam istilah masjid apa yang disebut oleh masyarakat kita sebagai surau atau musholla, wallahu a’lam.

    ***

    Ketika menjelaskan hadits, “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagaimana kuburan.” Ibnu Hajar mengatakan:

    فَإِنَّ ظَاهِره يَقْتَضِي النَّهْي عَنْ الدَّفْن فِي الْبُيُوت مُطْلَقًا

    “Sesungguhnya zahir hadits ini menunjukkan terlarangnya mengubur mayat di dalam rumah secara mutlak.” (Fathul Bari, 2/155. Maktabah Syamilah). Adapun rumah yang berada di samping kuburan maka kami tidak mengetahui kalau ada dalil yang melarangnya, sedangkan hukum asal segala sesuatu adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Wallaahu a’lam.

    ***

    Penanya: Abu Evi
    Dijawab: Abu Muslih Ari Wahyudi

    sumber: konsultasi syari’ah com

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s