Jadwal Kajian Berau dan Jadwal Pelajaran Bahasa Arab di Berau

Jadwal Kajian Berau dan Jadwal Pelajaran Bahasa Arab di Berau

Jadwal Kajian Berau dan Jadwal Pelajaran Bahasa Arab di Berau

Berikut adalah informasi jadwal kajian Berau dan pelajaran bahasa Arab di Berau, Kalimantan Timur. Bagi Anda yang tinggal di Berau, khususnya Kecamatan Tanjung Redeb, silakan hadiri jadwal kajian berikut. Atau bantu sebarkan dan informasikan jadwal kajian Berau ini kepada saudara-saudara kita yang berdomisili di Berau, Kalimantan Timur.

Jadwal Kajian di Berau

1. Setiap Ahad jam 10.30 WITA. Tempat: Surau Miftahul Huda, Jl. Gunung Panjang, Gang Karomah, Tanjung Redeb, Berau. Materi: Keluarga Sakinah. Pemateri: Ustadz Muslam dari Ma’had Jamilurrohman, Yogyakarta, live via HP. Peserta: ikhwan dan akhwat.
2. Setiap Ahad ba’da Maghrib. Tempat bergantian antara Surau Baiturrahim, Jl. Stasiun 3, Teluk Bayur dan Surau Baitussalam, Jl. Poros Limunjan, Sambaliung, Berau. Materi: Akhlaq. Pemateri: Ustadz Abdul Aziz. Peserta: KHUSUS ikhwan.
3. Setiap Senin, ba’da Maghrib. Tempat: Surau Miftahul Huda, Jl. Gunung Panjang, Gang Karomah, Tanjung Redeb, Berau. Materi: Keutamaan Menuntut Ilmu. Pemateri: Ustadz Abdul Aziz. Peserta: ikhwan dan akhwat.
4. Setiap Selasa ba’da Maghrib. Tempat: Masjid At-Taubah, Jl. Gunung Panjang, Tanjung Redeb, Berau. Materi: Hadits Arba’in Nawawiyyah. Pemateri: Ustadz Abdul Aziz. Peserta: KHUSUS ikhwan.
5. Setiap Selasa, pukul 09.00 s.d. 10.30 WITA. Tempat: Yayasan Imam Syafi’i, Jl. Gunung Panjang, Gang Sari Karya, Gunung Panjang, Tanjung Redeb, Berau. Materi: Fiqh Wanita. Pemateri: Ustadz Abdul Aziz. Peserta: KHUSUS AKHWAT.
6. Setiap Rabu, ba’da Isya’. Tempat: Masjid Polres Berau, Jl. Pemuda, Tanjung Redeb, Berau, Materi: Ushuluts Tsalatsah. Pemateri: Ustadz Abdul Aziz. Peserta: KHUSUS ikhwan.
7. Setiap Kamis, ba’da Maghrib. Tempat Masjid Baitussalam, Jl. H. Isa 3, Tanjung Redeb, Berau. Materi: Fiqh. Pemateri: Ustadz Abdul Aziz. Peserta: ikhwan dan akhwat.
8. Setiap Jum’at, ba’da Maghrib. Tempat: Surau Miftahul Huda, Jl. Gunung Panjang, Gang Karomah, Tanjung Redeb, Berau. . Materi: Akhlaq. Pemateri: Ustadz Abdul Aziz. Peserta: ikhwan dan akhwat.
9. Setiap Sabtu, jam 10.00-11.30 WITA. Tempat: Yayasan Imam Syafi’i, Jl. Gunung Panjang, Gang Sari Karya, Gunung Panjang, Tanjung Redeb, Berau. Materi: Aqidah. Pemateri: Ustadz Abdul Aziz. Peserta: KHUSUS AKHWAT.
10. Setiap Sabtu, ba’da Maghrib. Tempat: Surau Nurul A’la, Jl. Murjani 2, Gang Lestari, Tanjung Redeb, Berau. Materi: Riyadhush Sholihin. Pemateri: Ustadz Abdul Aziz. Peserta: KHUSUS ikhwan.

Contact Person untuk Jadwal Kajian Berau

Ikhwan: Akh Hadi (085386746044)
Akhwat: Ummu Nana (085386189926)

Pelajaran Bahasa Arab di Berau

Setiap Senin, Selasa dan Jum’at, ba’da Isya’ (20.00 s.d. 21.30 WITA). Tempat: Yayasan Imam Syafi’i, Jl. Gunung Panjang, Gang Sari Karya, Gunung Panjang, Tanjung Redeb, Berau. Pengajar: Ustadz Abdul Aziz. Peserta: khusus ikhwan.

Contact Person Pelajaran Bahasa Arab @ Berau

Akh Hadi: 085386746044

(Sumber : rodjaberau.com)

Iklan

ILMU TIDAK BISA DIRAIH DENGAN BADAN YANG MALAS

 

Ada sebuah kisah yang menarik yang dibawakan oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’ yang bisa jadi motivasi bagi setiap penuntut ilmu. Kisahnya adalah sebagai berikut:
وقال الرازي: وسمعت علي بن أحمد الخوارزمي يقول: سمعت عبد الرحمن بن أبي حاتم يقول: كنا بمصر سبعة أشهر، لم نأكل فيها مرقة، كل نهارنا مقسم لمجالس الشيوخ، وبالليل: النسخ والمقابلة.
قال: فأتينا يوما أنا (1) ورفيق لي شيخا، فقالوا: هو عليل، فرأينا في طريقنا سمكة أعجبتنا، فاشتريناه، فلما صرنا إلى البيت، حضر وقت مجلس، فلم يمكنا إصلاحه، ومضينا إلى المجلس، فلم نزل حتى أتى عليه ثلاثة أيام، وكاد أن يتغير، فأكلناه نيئا، لم يكن لنا فراغ أن نعطيه من يشويه.
ثم قال: لا يستطاع العلم براحة الجسد (2).

Ar Rozi berkata, “Aku pernah mendengar ‘Ali bin Ahmad Al Khawarizmi menyatakan bahwa beliau pernah mendengar bahwa ‘Abdurrahman bin Abu Hatim bercerita,

“Kami pernah berada di Mesir selama tujuh bulan dan kami tidak pernah menyantap makanan berkuah. Pada setiap siang, kami menghadiri majelis para Syaikh. Sedangkan di malam hari, kami menyalin pelajaran dan mendiktekannya kembali. Pada suatu hari, aku bersama sahabatku ingin menemui seorang guru (Syaikh). Namun di tengah perjalanan, ada yang berkata bahwa guru tersebut sedang sakit. Lantas di tengah perjalanan, kami melihat ikan yang menarik hati kami. Kami pun membelinya. Ketika tiba di rumah, ternyata datang lagi waktu bermajelis, sehingga kami belum sempat mengolah ikan yang dibeli tadi. Kami pun langsung berangkat ke majelis. Demikian terus berlangsung hingga tiga hari. Akhirnya ikan itu membusuk. Lantas kami pun memakannya seperti itu dalam keadaan mentah. Saat itu kami tidak sempat memberikannya kepada seseorang untuk membakarnya. Kemudian ‘Abdurrahman bin Abu Hatim berkata, “Laa yustatho’ul ‘ilmu bi rohatil jasad” (Ilmu -agama- tidaklah bisa diraih dengan badan yang bersantai-santai). (Siyar A’lamin Nubala’, 13/266)

Saudaraku … inilah kisah dari ulama salaf dahulu sebagai motivasi bagi kita saat ini. Beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari sepenggal kisah di atas:

1. Perlu pintar-pintar membagi waktu antara urusan dunia dan urusan agama.

2. Setiap orang memang akan sibuk dengan urusan dunianya untuk mencari penghidupan, namun mereka punya kewajiban untuk mempelajari agama. Terlebih lagi ada ilmu yang setiap individu wajib mempelajarinya yang membuat Islamnya sah dan tidak sampai meninggalkan kewajiban atau menerjang larangan Allah.

3. Di saat kita berada di sekeliling ahli ilmu, maka kita jangan sampai melalaikan dari menimba ilmu dari mereka. Semisal ketika kita berada di sekeliling ahli ilmu di Saudi sana, saat kita menimba ilmu di tanah Arab, itu adalah waktu terbaik untuk meraih ilmu diin (ilmu agama) karena jika kita kembali ke negeri sendiri tidak mungkin kita mendapatkan ilmu semisal di sini. Setiap waktu kita saat itu mesti pintar-pintar dibagi.

4. Waktu teramat berharga, terlebih lagi bagi seorang penuntut ilmu. Sedetik pun jangan sampai dilewatkan dalam ilmu, amalan dan dakwah.

5. Ilmu agama tidak bisa diraih dengan badan yang bersantai-santai atau bermalas-malasan. Seluruh kemampuan yang kita curahkan untuk belajar Islam, itu belum tentu kita bisa meraih semua ilmu. Apalagi jika kita hanya mencurahkan separuh atau kurang dari itu.

6. Setiap orang beriman atau seorang penuntut ilmu diin akan mendapati cobaan dalam hidupnya. Seperti kisah di atas, mereka mendapati cobaan sampai memakan ikan yang busuk karena tidak ada santapan lainnya dan karena semakin sibuknya waktu untuk belajar.

Semoga Allah menganugerahkan waktu kita terus terisi dengan hal yang bermanfaat dan berpahala serta terisi terus dengan belajar Islam hingga liang lahad.
Wallahu waliyyut taufiq.

Panggang-Gunung Kidul, 10th Sya’ban 1432 H (12/07/2011)
http://www.rumaysho.com

sumber :http//rumaysho.com

SEPAK TERJANG SYI’AH DI INDONESIA

Oleh :

Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Perjalanan kaum Syi’ah di negeri ini semakin jelas khususnya dimulai ketika terjadi revolusi Iran yang mengantarkan ajaran atau (tepatnya disebut) dîn (agama) Syi’ah untuk menguasai Iran sebagai agama penguasa setelah pemerintahan Reza Fahlevi runtuh.Setelah terjadi revolusi di Iran di penghujung tahun 1979, mereka mulai menyebarkan ajaran mereka ke seluruh negeri Islam dengan mengatasnamakan dakwah Islam. Terutama ke negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah kaum Muslimin. Ada tiga faktor yang menyebabkan Syi’ah mudah masuk ke Indonesia. Yaitu:

Baca lebih lanjut

FIQH QURBAN

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar: 2). Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis) Baca lebih lanjut

Beberapa Kesalahan yang Sering Terjadi di Musim Haji

Perjalanan suci menuju Baitullah membutuhkan bekal yang cukup. Di samping bekal harta, ilmu pun merupakan bekal yang mutlak dibutuhkan. Karena dengan ilmu, seseorang akan terbimbing dalam melakukan ibadah hajinya sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu, akan terhindar dari berbagai macam bid’ah dan kesalahan, sehingga hajinya pun sebagai haji mabrur yang tiada balasan baginya kecuali Al-Jannah.

Berangkat dari harapan mulia inilah, nampaknya penting sekali untuk diangkat berbagai kesalahan atau bid’ah (hal-hal yang diada-adakan dalam agama) yang sekiranya dapat menghalangi seseorang untuk meraih predikat haji mabrur. Di antara kesalahan-kesalahan itu adalah sebagai berikut: Baca lebih lanjut

KEUTAMAAN HAJI DAN UMRAH

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ.

“Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga.” [1] Baca lebih lanjut

Penghasilan Pemain Bola (termasuk Hukum Menonton Sepak Bola Baik Langsung maupun Menonton di TV)

Pertanyaan, “Jika seorang itu menjadi pemain sepak bola atau pemain bola basket profesional, lalu dia mendapatkan uang karena bermain bola, halal ataukah haram uang yang didapatkan?” Baca lebih lanjut