Syaikh Utsaimin Yang Kukenal (2)

Penulis Kholid bin Abdillah Al Mushlih ⋅

Ayyuhal ikhwah..

Apabila kita melihat kehidupan Syaikh bersama Al qur’an, sungguh Al qur’an telah mewarnai kehidupan beliau. Perilakunya adalah hasil penjabaran al qur’an, Amal dan akhlaqnya adalah pengamalan dari apa yang telah diwasiatkan dalam al qur’an.

Aku selalu ingat perkataan Aisyah kepada Said bin Hisyam bin Amir tatkala bertanya kepadanya,” Wahai Ummul Mukminin, kabarkan kepadaku tentang akhlaq Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.” Aisyah berkata,” Tidakkah engkau membaca Al Qur’an ?” Said menjawab,” Tentu.” Aisyah berkata,” Akhlaq beliau halallahu ‘alaihi wasalam adalah Al Qur’an.”[1]

Aku melihat Syaikh bersegera untuk menerapkan hadits Aisyah ini pada dirinya. Beliau menerapkan Al Qur’an pada perkataan, perbuatan dan pergaulannya.Bukti sisi ini begitu banyak tak terhitungkan. Aku akan sebutkan beberapa bukti kisah yang masih melekat dihatiku tentang perkara-perkara yang sebagian orang dianggap berat akan tetapi tidak bagi beliau.

Suatu ketika aku pergi bersama Syaikh ke Ma’had Ilmi dalam sebuah muhadharah yang beliau akan sampaikan. Tatkala kami keluar, ada penjaga ma’had yang bersemangat dalam menyambut kedatangan Syaikh ataupun kepulangannya. Tatkala Syaikh pergi, diapun berdiri di pintu dengan muka yang berseri. Ia melepas perginya Syaikh dengan lisan dan tangannya sehingga ia mengucapkan salam perpisahannya sambil melambaikan tangannya. Waktu itu Syaikh yang berada di sisiku menoleh kepadanya. Syaikh membalas orang tadi dengan isyarat yang serupa. Beliau kembali menoleh kepadaku dan berkata, yang artinya

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)[2]

Sungguh makna seperti ini tercermin dari kehidupan seorang alim, perkara yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Suatu ketika kami memasuki suatu majlis yang telah ada beberapa ikhwah didalamnya. Syaikh mengucapkan salam kepada salah seorang ikhwah dengan suara yang jelas sebagaimana kebiasaan beliau dalam menyebarkan salam. Ikhwah tersebut lantas membalasnya, akan tetapi dengan suara yang sangat pelan. Hal ini lantaran tabiat ikhwah tersebut yang malu-malu untuk mengeraskan suaranya. Syaikhpun berkata kepadanya,”Keraskan suaramu ! Allah berfirman yang artinya:

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)

Saudara-saudaraku yang terhormat

Masih dalam kisah Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin dan Al qur’an, suatu ketika beliau mendatangi suatu daerah yang aku tinggal disana. Sudah menjadi kebiasaan apabila beliau pergi ke suatu daerah yang didalamnya terdapat kerabat atau orang yang beliau kenal, pasti beliau akan menghubungi mereka sebelumnya dan memberitahukan kepentingannya. Hal ini beliau lakukan sebagai bentuk perhatian beliau kepada mereka.

Pada satu saat beliau datang dan tidak memberitahuku. Setelah sampai, beliau baru menghubungiku dan memberitahukan kedatangannya. Akupun berkata kepadanya,” Semoga keselamatan senantiasa Allah berikan kepadamu, mengapa engkau tidak memberitahuku sebelumnya?” Dari konteks bahasaku, beliau dapat merasakan kekecewaanku. Beliaupun lantas berkata yang artinya,”

Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf[3]

Ayyuhal ikhwah..

Hal ini menunjukkan perhatian dan tingginya adab beliau sehingga membahagiakan orang yang bergaul dengannya. Inilah prinsip yang selalu beliau jaga dan terapkan dalam kehidupan nyata. Yaitu tidak membebani manusia melebihi kebiasaannya.

Barangsiapa yang mau bersikap seperti itu, menerima manusia apa adanya tanpa menuntut apa yang diluar kemampuannya, tentu ini akan membuat dia dan orang yang bergaul dengannya merasa bahagia.

Saudara-saudaraku yang terhormat

Pada suatu hari kami bersama Syaikh kembali dari berkunjung ke tempat ikhwah. Kamipun berbincang-bincang ringan kesana kemari. Aku berkata kepada Syaikh sebelum beliau turun dari mobil tentang firman Allah yang artinya

…. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana[4]

Beliaupun langsung menoleh kepadaku sebelum membuka pintu mobil sambil berkata,” Perhatikanlah ! firman Allah …. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi…disebutkan Al Qur’an dalam bentuk jumlah ismiyah untuk menjelaskan bahwa selamanya kalimat Allah itu lebih tinggi dibandingkan kalimat selainnya.”

Ayyuhal ikhwah..

Apakah kita termasuk orang yang menghayati makna itu ditengah-tengah bacaan kita, tatkala kita mendengar kalamNya ? sungguh hal ini jarang terjadi dikalangan tholibul ilmi apalagi selain mereka.

Salah satu sisi yang patut dicermati dari kehidupan beliau bersama al Qur’an adalah bahwa beliau senantiasa mengamalkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang artinya

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya.[5]

Dalam hadits ini Nabi menjelaskan keutamaannya dan Nabi adalah orang yang paling dahulu mengamalkannya dalam belajar dan mengajarkan Al Qur’an.

Syaikh adalah orang yang memasukkan pengajaran al Qur’an pada pelajaran-pelajaran di jami’ahnya. Bahkan beliau sangat bersemangat untuk mencantumkan ayat-ayat al Qur’an dalam pelajarannya di Haramain. Beliau sering mengingatkan para penuntut ilmu akan kewajiban dalam merujuk pada tafsir ayat karena sangat bermanfaat. Inilah yang sering dilupakan para penuntut ilmu. Mereka lebih perhatian terhadap cabang-cabang ilmu lainnya. Padahal yang demikian itu pada hakekatnya mereka telah melupakan pokok dan sumber ilmu itu sendiri. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

. Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu[6]

Ayyuhal ikhwah..

Syaikh adalah orang yang menerapkan hal tersebut pada dirinya. Beliau adalah orang yang sangat perhatian terhadap halaqoh-halaqoh al Qur’an. Bukan saja halaqoh yang ada didalam negerinya akan tetapi setiap halaqoh yang beliau ketahui keberadaanya. Perhatian ini beliau wujudkan dalam bentuk dukungan, keterlibatan langsung ataupun dengan bantuan materi.

Jamiah Tahfidzul Qur’an yang ada dikota Unaizah adalah salah satu bentuk perhatian dan peran beliau yang besar. Beliaulah yang mendirikan dan mengelolanya secara materi maupun non materi. Beliau berusaha untuk mewujudkan tujuan yang telah dicanangkan oleh Ma’had. Perhatian beliau tidak saja terbatas pada kepengurusan lembaga akan tetapi beliau ikut terlibat langsung dalam kegiatan majlis dengan para siswanya, baik dalam pertemuan-pertemuan kecil apalagi pertemuan tahunan dalam rangka wisuda kelulusan siswa.

Kami sering mendengar suara beliau dari menara-menara masjid saat menyertai siswa dan anak-anak beliau yang sedang menyelesaikan juz atau sebagian dari kitabullah.

Ayyuhal ikhwah..

Sungguh kisah tentang syaikh dan kehidupannya bersama al Qur’an sangatlah panjang. Cerita diatas hanyalah ringkasan saya dari kisah-kisah itu.

Sekarang marilah kita beralih pada point ke-2 yaitu “Kisah Kehidupan Syaikh Utsaimin Dengan Sunnah Nabi”.

Bersambung…………….

[1] Muslim : kitab sholatnya musafir dan sholat qosor, bab barangsiapa yang tidur atau sakit hadits ke 746

[2] QS.An Nisa ayat 86

[3] QS.Al A’raf ayat 199

[4] QS.At Taubah ayat 40

[5] Bukhari : Kitab Fadhoilul Qur’an bab Khoirukum man taalamal qur’an wa ‘allamahu. Hadits no 5027

[6] QS Al Ankabut : 49

Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih hafidzahullah di http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf diambil dari http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-2

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s