Sunnah Dan Bid’ah Dalam Bulan Allah: Muharrom

22 December 2009 M | 05 Muharram 1431 H //

Oleh: Syaikh Muhammad Ali Farkus hafizhohullaah

Salah satu kemuliaan bulan pertama dalam bulan-bulan tahun qomariyah adalah bahwa Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam menisbahkan bulan ini kepada Allah, dan menyifatkannya sedemikian dalam hadis beliau shollallahu’alayhiwasallam: “Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah, al muharrom”. [1]

Dan telah diketahui bahwa Allah tidak menisbahkan sesuatu kepada diri-Nya melainkan makhluk-makhluk-Nya yang khusus sebagai pemuliaan dan pengutamaan. As Suyuuthiy -semoga Allah merahmatinya- berkata: “Aku ditanya: kenapa Muharrom dikhususkan dengan dikatakan sebagai bulan Allah -tabaaroka wa ta’aalaa- sedang bulan-bulan yang lain tidak. Padahal di antara bulan-bulan yang lain itu ada yang menyamainya atau melebihinya dalam hal keutamaan seperti bulan Romadhon? Dan aku mendapatkan jawabannya: bahwa nama Muharrom ini islami sedang nama bulan-bulan lain tidak islami pada masa jahiliyah. Nama bulan Muharrom pada masa jahiliyah adalah Shofar Awal. Dan bulan berikutnya adalah Shofar Tsani. Ketika Islam datang, Allah menamainya al Muharrom. Maka bulan ini dinisbahkan kepada Allah dengan pertimbangan seperti ini. Ini adalah suatu faidah lembut yang aku lihat di “Al Jamharoh”. [2]

“Dan dimakruhkan menyebut Muharrom dengan nama Shofar karena itu merupakan kebiasaan jahiliyyah”. Sebagaimana yang disebutkan oleh An Nawawiy. [3]

Dan boleh jadi, salah satu kebiasaan mereka adalah menyebut bulan Muharrom dan Shofar dengan lafal “Shofaroyn” (dua Shofar -pent) sebagai sebuah taghliib (mengunggulkan nama Shofar atas nama Muharrom, sehingga kemudian disebut dengan “dua Shofar” -pent) bukan karena Muharrom itu nama baru yang muncul belakangan. Syaikh Bakr Abu Zaid -semoga Allah merahmatinya- berkata: “Sesungguhnya nama bulan Muharrom, pada waktu jahiliyyah dulu, dinamai Shofar Awal. Dan penamaannya dengan Muharrom merupakan peristilahan dalam Islam. Sebagian pakar bahasa ada yang berpendapat demikian. Sedang aku memandangnya sebagai suatu hal yang masih belum jelas. Karena merubah nama-nama yang berkaitan dengan perkara-perkara umum akan menyebabkan kesamaran bagi orang banyak yang hal ini tentu tidak dikehendaki oleh pensyari’at. Tidakkah kau perhatikan ketika Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam berkhutbah pada Haji Perpisahan, beliau berkata: “Hari apa ini? Periwayat (yaitu Sahabat Nafi’ bin Al Harits rodhiyallaahu’anhu) berkata: maka kami diam sampai-sampai kami mengira beliau akan menamainya dengan nama lain. Beliau berkata” “Bukankah Dzulhijjah?”. Kami berkata: Benar. Beliau berkata: “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram di antara kalian. Sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negri kalian..”. [4]

Kemudian beliau menyebutkan bulan-bulan haram di tengah-tengah khutbah: dzulqo’dah, dzulhijjah, al muharrom dan rajabnya Mudhor, yang terletak antara bulan Jumaadaa dan Sya’ban. Kalau nama Al Muharrom itu adalah nama baru, maka tentu beliau akan menerangkannya untuk orang-orang yang hadir ketika itu, yang mereka itu datang dari berbagai penjuru. Ditambah lagi, kejadian seperti ini kalau memang benar-benar terjadi, tentu akan diceritakan oleh orang banyak. Jadi, mereka menamai Muharrom dan Shofar dengan lafal “shofaroyn” (dua shofar) hanya sebagai taghliib”. [5]

Demikianlah, dan tidak ada nash syar’iy shahih yang menetapkan pengkhususan bulan Allah al Muharrom dengan dzikir, do’a, umroh atau puasa pada hari pertama tahun baru dengan niat mengawali tahun hijriyah dengan puasa. Juga tidak ada nash syar’iy untuk berakhir tahun dengan berpuasa pada akhir tahun dengan niat meninggalkan tahun hijriy. Hadis-hadis yang berkaitan dengan perkara ini adalah palsu dan diada-adakan terhadap Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam. [6]

Sebagaimana tidak ada dalil dalam syari’at untuk menghidupkan malam hari pertama bulan Muharrom dengan sholat, dzikir, doa dan sebagainya. Abu Syaamah -semoga Allah merahmatinya- berkata: “Dan tidak ada satu pun keterangan tentang malam pertama bulan Muharrom. Dan aku telah memeriksa seluruh atsar yang diriwayatkan, baik yang shahih ataupun yang dho’if, juga dalam hadis-hadis palsu, namun aku tidak menemukan seorang pun menyebutkan suatu keterangan tentangnya. Sungguh aku khawatir -dan perlindungan itu hanya kepada Allah- terhadap pendusta yang mengada-adakannya. [7]

Dalam bulan Allah al Muharrom, terdapat suatu hari agung yaitu hari ‘asyuro yang diberkahi. Kemuliaannya sudah sejak lama. Karena pada hari inilah Allah menyelamatkan Nabi Musa ‘alayhiwssalam beserta Bani Israil dari kezaliman Fir’aun dan bala tentaranya. Dan Allah tenggelamkan Fir’ain dengan kaumnya. Dalam Shahih Bukhori dan Muslim terdapat keterangan dari hadis Ibnu Abbas rodhiyallaahu’anhuma, ia berkata: Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam tiba di Madinah dan ia mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘asyuro. Maka beliau berkata kepada mereka: “Hari apakah ini yang kalian berpuasa padanya?” Mereka berkata: “Ini adalah hari agung di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai suatu kesyukuran, dan kami pun berpuasa padanya”. Lalu Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Kami lebih berhak dan lebih pantas terhadap Musa daripada kalian”. Beliaupun berpuasa pada hari ini dan menyuruh untuk berpuasa padanya. [8]

Salah satu keutamaan hari ‘asyuro adalah bahwa berpuasa pada hari ini menggugurkan dosa setahun yang lalu berdasarkan sabda Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam: “Aku mengharapkan balasan semoga Allah menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu”. [9]

Dan di-mustahab-kan untuk berpuasa -beserta hari ‘asyuro- pada hari kesembilannya. Karena ini merupakan perintah terakhir Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam di mana beliau bersabda: “Kalau saja aku masih hidup sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada hari kesembilannya” [10], untuk menyelisihi orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘asyuro saja.

Salah satu hukum berkenaan dengan hari ‘asyuro adalah dinasakhnya kewajiban puasa ‘asyuro menjadi mustahab berdasarkan hadis Ibnu Umar rodhiyallaahu’anhumaa, ia berkata: “Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam berpuasa pada hari ‘asyuro dan menyuruh untuk berpuasa pada hari tersebut, maka ketika diwajibkan puasa romadhon, puasa ‘asyuro ditinggalkan”. [11]

Dan dalam hadis ‘Aisyah rodhiyallaahu’anhaa: “..maka ketika diwajibkan puasa romadhon, beliau meninggalkan hari ‘asyuro, maka barangsiapa yang ingin berpuasa pada hari itu, dia boleh berpuasa. Dan barangsiapa yang tidak ingin, ia boleh meninggalkannya”. [12]

Al Hafizh Ibnu Hajar -semoga Allah merahmatinya- berkata: “Dengan diketahui bahwa ke-mustahab-an puasa ‘asyuro itu tidak dihapus, melainkan tetap, maka ini menunjukkan bahwa yang dihapus adalah kewajibannya. Bahkan hukum sangatdi-mustahab-kannya puasa ‘asyuro itu tetap berlaku, apalagi dengan senantiasa adanya perhatian terhadapnya sampai pada tahun wafatnya Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam, di mana beliau bersabda: “Seandainya aku masih hidup, maka aku akan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh”, dan karena anjuran beliau untuk berpuasa pada hari ‘asyuro dan bahwa ia menggugurkan dosa-dosa setahun. Penegasan manakah yang lebih kuat dari ini? [13]

Oleh karena itu tidak benar meyakini wajibnya puasa hari ‘asyuro, juga tidak benar meyakini wajibnya atau mustahabnya mengqodho puasa ‘asyuro bagi orang yang tidak melakukannya. Begitu juga mengkhususkan berpuasa pada hari kesembilan tanpa hari kesepuluh. Sebagaimana tidak ada riwayat dari Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam atau dari Sahabat beliau rodhiyallaahu’anhum tentang hari ini kecuali berpuasa padanya. Karena pada hari ‘asyuro tidak ada satu pun syi’ar hari raya atau syi’ar berdukacita ataupun acara memberi keleluasaan (berupa uang misalnya -pent) kepada anak-anak, juga tidak ada acara memukul-mukul dada, mencabuti rambut, mengoyak-ngoyak pakaian atau menumpahkan darah. Semua itu bertentangan dengan sunnah nabawiyyah yang suci. Syaikh Bakr Abu Zayd -semoga Allah merahmatinya- berkata: “Yang dijadikan sandaran menurut penganut agama Islam adalah bahwa tidak ada satupun hadis tentang (amalan-amalan -pent) hari ‘asyuro, baik pada siang harinya atau pada malam harinya, yang shahih. Dan semua hadis yang diriwayatkan tentang hal tersebut dan tentang memberi keleluasaan kepada anak-anak pada hari ‘asyuro`, adalah palsu dan tidak shahih. Tidak ada yang valid kecuali yang berkenaan dengan berpuasa pada hari ‘asyuro dan sehari sebelumnya. Karena itu adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi-Nya Musa ‘alayhissalaam. [14]

Aku katakan: dan telah tsabit dari Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam perkara agama kami ini, yang tidak termasuk di dalamnya, maka ia tertolak”. [15]

Dan Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam juga bersabda: “Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. [16]

Dan benar-benar sangat disayangkan, bahwa kaum muslimin tidak beriltizam dengan mengikuti hal yang disyari’atkan dan mereka bersegera menjadikan awal bulan Allah al muharrom ini sebagai hari raya yang dikaitkan dengan masuknya tahun hijriyah seperti tahun masehi. Dan mereka menjadikan itu sebagai sarana untuk mengadakan peringatan penanggalan tahunan dan menghidupkannya -sebagai pengagungan terhadapnya- dengan berdzikir dan mengadakan acara-acara peringatan, khutbah-khutbah, kajian-kajian dan ceramah-ceramah, serta pembacaan syair dan penyelenggaran acara-acara seni, musik, budaya, dan saling bertukar ucapan selamat dan selainnya yang termasuk perkara-perkara yang diada-adakan oleh orang banyak, dan yang jelas-jelas merupakan peniruan terhadap orang-orang ahlul kitab.

Dari sudut lain, sesungguhnya peristiwa-peristiwa besar dan momen-momen penting yang terhimpun dalam siroh Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam yang sedemikian harum, seperti diutusnya beliau shollallaahu’alayhiwasallam kepada seluruh umat manusia sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, turunnya wahyu kepada beliau, mukjizat Al Quran dan mukjizat-mukjizat yang lain, malam isro` mi’roj, hijrahnya beliau dari Makkah ke Madinah, dan terjadinya beberapa peperangan dan pertempuran, didirikannya dawlah Islam, dan meningginya bendera jihad di jalan Allah, dan tersebarnya dakwah menuju Allah di segala penjuru dan peristiwa-peristiwa besar lainnya yang terjadi di masa Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam, tidaklah memberikan sifat kemasyru’an pada acara peringatan hijrah nabawiyyah di hari pertama dalam bulan Allah al Muharrom setiap tahun baru, sebagai sebuah hari raya dan hari libur untuk kaum muslimin yang dilakukan secara rutin. Hal tersebut karena telah diketahui secara syari’at, bahwa hari-hari raya dan musim-musim keagamaan itu terhitung sebagai masalah-masalah ibadah. Dan ibadah itu, dari segi hukumnya, merupakan perkara yang tawqiifiyyah, yaitu yang membutuhkan dalil syar’iy yang memberikan tuntunan tentangnya, sebagaimana yang telah disepakati dalam kaidah-kaidah syar’iy. Berdasarkan firman Allah:

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Q.S.45:18)

Dan firman-Nya juga:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (Q.S.42:21)
Juga berdasarkan hadis Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam: “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak didasari oleh perintah kami, maka amalan itu tertolak”. [17]

Dan peringatan awal bulan Muharrom itu tidak disokong oleh satu pun dalil dari kitab Allah, juga tidak dari Sunnah Rasulullah shollallahu’alayhwasallam. Dan tidak ada satupun riwayat dari para Sahabat yang mulia atau para Tabi’in tentang peringatan tersebut.

Juga tidak pada tempatnya, menjadikan perayaan dan peringatan hari-hari seperti ini sebagai sebuah kesyukuran kepada Allah ta’ala atau sebagai pengagungan terhadap Rasul-Nya shollallahu’alayhiwasallam. Karena bersyukur kepada Allah bukanlah dengan cara menyekutui-Nya dalam membuat suatu syari’at atau hukum. Sedang Allah telah berfirman:

“…dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (Q.S.18:26).

Akan tetapi bersyukur kepada Allah itu dengan cara mentaati-Nya dan menyembah-Nya sesuai dengan syari’at-Nya dan mengagungkan Rasul-Nya shollallahu’alayhiwasallam adalah dengan cara mengikuti sunnah-sunnahnya dan mentaatinya dalam hal yang ia perintahkan dan yang ia larang, serta tunduk kepada hukum-hukumnya, bersuritauladan kepadanya dalam hal yang zahir dan yang batin dan tidak membuat suatu bid’ah dalam agama ini. Allah berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Q.S.33:21)

Dan Allah berfirman:

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S.3:31)

Ibnu Katsir -semoga Allah merahmatinya- berkata: “Ayat ini merupakan hakim bagi semua orang yang mengklaim mencintai Allah namun tidak berada di atas jalan Rasul-Nya Muhammad shollallahu’alayhiwasallam. Maka sesungguhnya orang seperti itu adalah pendusta sampai ia mengikuti syari’at Muhammad dan agama nabawiy di setiap perkataan dan perbuatannya. Sebagaimana yang telah tsabit dalam hadis shahih, dari Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam bahwa beliau bersabda: barangsiapa yang mengamalkan sesuatu yang tidak didasari oleh perintah kami maka amalan tersebut tertolak. … dan al Hasan al Bashriy serta yang lain berkata: suatu kaum mengaku-ngaku bahwa mereka mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” [18]

Kemudian, dari sudut ketiga, sangat jelas bahwa awal bulan Allah al Muharrom adalah permulaan penanggalan tahun islamiy sebagai penanggalan hijriy. Demikian jugalah penanggalan yang dilakukan oleh para Sahabat rodhiyallaahu’anhum dengan ijma’ pada masa kekhalifahan Umar [19]. Dalam hal ini mereka menyelisihi permulaan penanggalan tahunan milik kaum Nasrani yang mengawali penanggalan mereka dari hari kelahiran Al Masih Isa ‘alayhissalaam. Meskipun demikian, hijrah Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam bukanlah pada bulan Muharrom. Hijrah beliau dari Makkah ke Madinah dimulai pada awal-awal bulan Robii’ul Awwal pada tahun ketigabelas sejak beliau diangkat menjadi Rasul. Dan beliau sampai di Quba` pada tanggal 12 Robi’ul Awal, hari Senin sebagaimana yang diterangkan oleh para pakar hadis dan sejarah. [20]

Dengan demikian menjadi jelas bahwa bulan Muharrom bukanlah waktu hijrah Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam. Hanya saja, awal rencana untuk melakukan hijrah adalah pada bulan tersebut menurut pendapat yang paling kuat sebagaimana yang diterangkan oleh Al Hafizh Ibnu Katsir -semoga Allah merahmatinya- dengan perkataannya: “Akan tetapi mereka mengakhirkannya pada bulan Robii’ul Awwal. Karena permulaan rencana untuk hijrah adalah pada bulan Muharrom. Karena bai’at terjadi pada pertengahan Dzulhijjah sedang bai’at ini adalah pendahuluan hijrah. Maka hilal pertama yang terlihat setelah peristiwa bai’at, dan rencana untuk melakukan hijrah adalah pada hilal Muharrom, maka ia tepat untuk dijadikan sebagai permulaan. Ini adalah pendapat paling kuat yang aku ketahui tentang alasan dimulainya hitungan tahun hijriyah dengan bulan Muharrom. [21]

Dari sudut keempat, sesungguhnya yang benar dan yang adil adalah bahwa kaum muslimin hendaknya meneladani Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam, mengambil pelajaran dari siroh perjalanan hidup beliau, memetik faidah dari peristiwa-peristiwa agung dan kejadian-kejadian penting yang terjadi di masa beliau, menarik pelajaran dan ibroh darinya selama sepanjang tahun, yang makna spirituil dari pelajaran-pelajaran itu terwujud dalam kenyataan sebenarnya, meluruskan perjalanan hidup seorang muslim, perilakunya dan akhlaknya dengan mengambil cahaya dari pelita nubuwwah. Bukan dengan membatasi siroh Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam dan mengambil faidah dari peristiwa-peristiwa di dalamnya, pada perayaan-perayaan dan ceramah-ceramah di waktu-waktu tertentu dalam satu tahun, yang kemudian lewat begitu saja sebagai sekedar peringatan belaka, yang berulang setiap tahun sebagai suatu adat kebiasaan dan begitu cepatnya dilupakan bersama lewatnya hari-hari tersebut tanpa ada perhatian atas pengaruh keimanan ataupun moralnya, terhadap perilaku dan perjalanan hidup kaum muslimin. Bahkan sebaliknya, engkau lihat sekian banyak orang yang saling berdesakan pindah dari negara-negara Islam ke negara-negara kafir untuk bisa tinggal bersama orang-orang kafir dan mencari rizki dengan cara mereka, serta hidup di negri-negri mereka dengan kebebasan yang sebebas-bebasnya seperti bebasnya hewan, menyerupai mereka dalam kebiasaan, adat, perayaan hari besar dan gaya hidup mereka. Maka di manakah pengaruh keimanan dan pengamalan dalam peringatan hijrah Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam, yang beliau itu telah berhijrah dari negri kemusyrikan ke negri iman dan islam?!!

Sesungguhnya perhatian Salafush Sholih dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, terhadap siroh Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam yang begitu harum, dan peristiwa-peristiwa besar di dalamnya, tidak lain adalah dengan mempelajarinya dan mengambil ibroh darinya. Dan pengambilan faidah dan pelajaran tersebut nampak jelas sepanjang tahun. Nilai-nilai tingginya terwujudkan -sebagai upaya membangun pondasi- dalam suluk dan perjalan hidup mereka, sebagai bentuk meneladani Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam dalam ajaran-ajaran beliau, dan menempuh jalan beliau, serta mencontoh beliau dalam berdakwah untuk mentauhidkan Allah dan mentauhidkan ittiba’ kepada Rasul-Nya, dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh syari’at dan menjauhi apa yang dilarang, sebagai bentuk pengamalan atas sabda Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah” [22]. Dan dalam hadis lain: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan keburukan-keburukan” [23]. Disertai dengan sikap menepati syari’at dalam hal-hal yang dicintai dan disenangi, juga dalam hal yang dibenci dan tidak ia sukai berkaitan dengan perkataan, perbuatan, keyakinan dan suatu barang sebagaimana yang diketahui dalam aqidah al walaa wal baroo`. Dan ini termasuk konsekwensi dari syahadatain dan merupakan salah satu syaratnya. Allah berfirman:

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali[192] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka…” (Q.S.3:28)

Dan Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S.5:51)

Dan Allah berfirman:

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka..” (Q.S.58:22)
Dan ayat-ayat yang lain.

Itulah hijrah batin di dalam qalbu yang selalu menyertai seorang muslim dan tidak pernah terlepas darinya, yang diiringi dengan -secara amaliah- hijrah badaniyah yang bersifat zahir dan mencakup hijrah qalbu, yaitu hijrahnya seorang muslim dari negri-negri kemusyrikan ke negri-negri Islam yang hukumnya adalah wajib bagi mereka yang tidak mampu menampakkan syi’ar-syi’ar Islam di negri-negri kafir atau tidak mampu bersikap wala dan baro`, dan mereka itu bukanlah tergolong orang-orang yang mustadh’afuun yang tidak mampu berhijrah atau orang-orang yang terhalang oleh kondisi politik atau geografis untuk melakukan hijrah.

Keduanya adalah dua hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, berdasarkan sabda Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam: “Maka barangsiapa yang hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya”. [24]

Ibnul Qoyyim -semoga Allah merahmatinya- berkata tentang hijrah: bahwa hijrah itu ada dua:

– Hijrah kepada Allah dengan do’a, cinta, peribadahan, tawakal, taubat, tunduk, berserah diri, takut, berharap, menghadapkan hati kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam bergantung dan berhajat kepada-Nya di setiap nafas.

– Hijrah kepada Rasul-Nya shollallaahu’alayhiwasallam dalam setiap gerak dan diam, yang zahir dan yang batin, di mana semua itu berkesesuaian dengan syari’atnya yang tidak lain adalah mengutamakan kecintaan Allah dan keridhoan-Nya, dan yang tidak akan Allah terima kecuali darinya. [25]

Dan ilmu itu ada pada Allah.

Wa aakhiru da’waanaa anil hamdu lillaahi robbil ‘aalamiina.
Wa shollallaahu ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shohbihii wa ikhwaanihii ilaa yawmid diini, wa sallil tasliimaa.

Catatan Kaki:

[1] Dikeluarkan oleh Muslim, kitab “puasa”: (520/1), nomor: (1163). Dan Abu Dawud, kitab “puasa”, bab tentang puasa Muharrom: (2429). Dan At Tirmidziy, kitab “sholat” bab riwayat-riwayat tentang keutamaan sholat malam: (438). Dan Ahmad dalam musnadnya: (344/2), dari hadis Abu Huroiroh rodhiyallaahu’anhu.

[2] Ad Diibaaj Syarh Shohiih Muslim bin Al Hajjaaj, karangan As Suyuuthiy: (352/3)

[3] Al Adzkaar, karangan An Nawawiy: (364)

[4] Dikeluarkan oleh Bukhori, kitab “al ‘ilmu”, bab sabda Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam “rubba muballaghin aw’aa min saami’in” (25/1), dan oleh Muslim, kitab “al qosaamatu wal muhaaribiin wal qishoosh” (799/2) nomor (1679), dari hadis Abu Bakroh dan namanya adalah Nafii’ bin Al Harits rodhiyallaahu’anhu.

[5] Mu’jam Al Manaahiy Al Lafzhiyyah, karangan Bakr bin Abdullah Abu Zayd, (341-342), dengan perubahan.

[6] Salah satunya adalah hadis palsu: barangsiapa yang berpuasa pada hari terakhir bulan dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharrom, ia mengakhiri tahun sebelumnya dan memulai tahun berikutnya dengan puasa, akan Allah jadikan untuknya penghapusan dosa 50 tahun. Lihat Al La`ali` Al Mashnuu’ah, karangan As Suyuthiy: (2:108). Tanziihusy Syarii’ah, karangan Al Kannaaniy: (2:148). Al Fawaa`id Al Majmuu’ah, karangan Asy Syawkaaniy (96).

[7] Al Baa’its ‘ala inkaaril bida’ wal hawaadits, karangan Abu Syaamah (239).

[8] Dikeluarkan oleh Bukhori, kitab “puasa”, bab puasa pada hari ‘asyuro (1/478). Dan oleh Muslim di “Ash Shiaam” (1/504) nomor (1130), dari hadis Ibnu Abbas rodhiyallaahu’anhumaa.

[9] Dikeluarkan oleh Muslim, kitab “ash shiyaam”: (1/519), nomor: (1162). Dan oleh Abu Dawud, kitab “ash shiyaam”, bab tentang sunnah puasa dahr: (2425). Dan oleh Ahmad dalam musnadnya: (5:297), dari hadis Abu Qotadah al Anshooriy rodhiyallaahu’anhu.

[10] Dikeluarkan oleh Muslim kitab “ash shiaam”: (1/505) nomor: (1134). Dan oleh Ahmad dalam musnadnya: (1/236), dari hadis Ibnu Abbas rodhiyallaahu’anhuma.

[11] Dikeluarkan oleh Bukhori, kitab “ash shoum”, bab wajibnya puasa romadhon: (1/453). Dan oleh Ahmad dalam musnadnya: (2/4), dari hadis Ibnu Umar rodhiyallaahu’anhumaa.

[12] Dikeluarkan oleh Bukhori, kitab “ash shoum”, bab puasa hari ‘asyuro: (1/478), dan oleh Muslim, kitab “ash shiaam”: (1/501), nomor: (1125), dari hadis ‘Aisyah rodhiyallaahu’anhaa.

[13] Fathul Baarii, karangan Ibnu Hajar: (4/247)

[14] Tashhiihud du’aa`, karangan Bakr Abu Zayd: (109)

[15] Muttafaqun ‘alayhi. Dikeluarkan oleh Bukhori, kitab “ashshulhu”, bab apabila mereka mengadakan perdamaian dengan perjanjian curan, maka perdamaian tersebut tertolak: (2/5). Dan oleh Muslim, kitab “al aqdhiyah”: (2/821) nomor (1718), dari hadis Aisyah rodhiyallaahu’anhaa.

[16] Dikeluarkan oleh Abu Dawud, kitab “as sunnah” bab tentang melazimi as sunnah: (4607). Dan oleh At Tirmdiziy, kitab “al ‘ilmu” bab riwayat-riwayat tentang mengambil as sunnah dan menjauhi bid’ah: (2676). Dan oleh Ahmad dalam Musnadnya: (4/126), dari hadis Al ‘Irbadh bin Sariyah rodhiyallaahu’anhu. Dan hadis ini dishahihkan oleh Ibnul Mulaqqon dalam “al badrul muniir”: (9/582), dan oleh Ibnu Hajar dalam “muwaafaqotul khubri al khobaro”: (1/136). Dan oleh Al Albani dalam “as silsilah ash shohiihah”: (2735). Dan dihasankan oleh Al Waadi’iy dalam “ash shohiihul musnad”: (938)

[17] Dikeluarkan oleh Muslim, kitab “al Aqdhiyah”: (2/822) nomor: (1718), dari hadis Aisyah rodhiyallaahu’anhaa.

[18] Tafsirul Qur`aanil ‘Azhiim, karangan Ibnu Katsir: (1/358)

[19] Al Bidaayah Wan Nihaayah, karangan Ibnu Katsir: (3/177).

[20] Lihat “Al Bidaayah Wan Nihaayah, karangan Ibnu Katsir: (3/177, 190), “Fushuul Fi Siirotir Rosuul” karangan Ibnu Katsir: (80), “Mukhtashor Siirotur Rosuul” karangan Muhammad bin Abdil Wahab: (2/166)

[21] Fathul Baariy, karangan Ibnu Hajar: (7/268).

[22] Dikeluarkan oleh Bukhori, kitab “al iimaan”, bab: seorang muslim adalah yang orang muslim lainnya selamat dari tangan dan lidahnya: (1/9) dari hadis Abdullah bin Amr rodhiyallaahu’anhuma.

[23] Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya: (196), dan oleh Abd bin Humaid dalam Musnadnya: (338), dan Al ‘Adaniy dalam “al iimaan”: (26), dan oleh Ibnu Mandah dalam “al iimaan”: (318), dan oleh Al Muruuziy dalam “Ta’zhiim Qodrish Sholaati”: (545), dari hadis Abdullah bin Amr rodhiyallaahu’anhuma. Dan dishashihkan oleh Al Albani dalam tahqiq kita “al iimaan” karya Ibnu Taimiyyah (3).

[24] Dikeluarkan oleh Bukhori, kitab “bad`ul wahyi” bab bagaimanakah awal mula wahyu diturunkan kepada Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam: (1/3). Dan oleh Muslim, kitab “al imaaroh”: (2/920), nomor: (1907) dari hadis Umar bin Khoththob rodhiyallaahu’anhu.

[25] Thoriiqul hijrotayni, karangan Ibnul Qoyyim: (20)

Diterjemahkan oleh Abu Abdil Halim Zulkarnain, dari tautan: http://www.ferkous.com/rep/M46.php

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s