BERKUMPUL UNTUK BERDUKA CITA DAN MEMBACAKAN AL-FATIHAH UNTUK MAYIT

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan:

“Mengucapkan turut bela sungkawa disyariatkan untuk setiap musibah, yaitu disampaikan kepada yang tertimpa musibah, tidak hanya kerabat saja, sebab adakalanya seseorang merasa tertimpa musibah dengan kematian sahabatnya dan terasa lebih berat daripada kematian kerabatnya. Adakalanya kerabat seseorang meninggal, tapi ia tidak merasa tertimpa musibah dan kurang memperdulikannya, bahkan mungkin merasa senang karena kematiannya jika ada problem di antara mereka. Jadi pada dasarnya ungkapan bela sungkawa itu adalah kepada orang yang merasa tertimpa musibah, yakni untuk menguatkannya agar tabah dan sabar.

Ungkapan terbaik dalam hal ini adalah yang disampaikan oleh Nabi, yang mana beliau mengutus seorang utusan kepada salah seorang putrinya untuk mengucapkan, “Milik   Allah-lah segala yang diambil-Nya dan milik-Nya pula semua yang diberikan-Nya. Dan segala sesuatu itu ada batas waktu di sisi-Nya. Hendaklah ia bersabar dan mengharap pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun berkumpulnya orang-orang untuk berta’ziah di suatu rumah, maka hal ini termasuk bid’ah. Jika hal ini disertai dengan membuat makanan di rumah tersebut, maka ini termasuk “meratap”, sebagaimana yang dianggap oleh para Sahabat. Yakni, bahwa berkumpul pada keluarga mayit dan membuat makanan, dianggap oleh para sahabat sebagai “meratapi mayit”, padahal meratap, sebagaimana disebutkan oleh sejumlah ahlul ilmi (ulama) dan para penuntut ilmu, termasuk perbuatan dosa besar, karena Nabi melaknat orang yang meratap dan mendengarkan ratapannya dengan seksama. Kerena itu, hendaknya para penuntut ilmu menjelaskan kepada orang umum, bahwa perbuatan ini tidak disyariatkan , dan dengan perbuatan itu mereka lebih dekat kepada dosa daripada keselamatan, dan bahwa yang wajib dilakukan oleh umat ini adalah mengikuti perilaku para pendahulunya yang shalih. Apakah Nabi, duduk-duduk untuk berduka cita karena kematian putrid-putrinya, anak-anaknya, istri-istrinya, yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah? Apakah beliau duduk-duduk demikian? Apakah Abu Bakar demikian? Apakah Umar demikian? Apakah Utsman demikian? Apakan Ali demikian? Apakah salah seorang sahabat duduk-duduk demikian untuk menunggu orang-orang yang mengucapkan bela sungkawa kepadanya? Tidak, sama sekali tidak. Ini tidak pernah dilakukan. Dan tidak diragukan lagi, bahwa sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad.

Adapun tradisi dan kebiasaan nenek moyang, maka hendaknya hal itu dihadapkan kepada Al Qur’an dan As-Sunnah serta tuntunan para salaf, jika sesuai maka itu dapat diterima, bukan karena tradisinya tapi karena kesesuaiannya dengan sunnah. Adapun yang bertolak belakang, maka harus ditolak. Hendaknya para penuntut ilmu tidak tunduk kepada tradisi yang mengatakan, “Bagaimana mungkin kami mengingkari ayah, ibu, dan saudara-saudara kami dalam hal yang sudah menjadi kebiasaan.” Jika kita ambil cara seperti ini terus (tidak mencegah), niscaya tidak ada sesuatu yang menjadi baik, perkaranya akan tetap demikian, tetap dalam kerusakan.

Adapun tentang membaca Al Fatihah untuk mayit adalah bid’ah di atas bid’ah, karena  Rasulullah tidak pernah berta’ziyah dengan membacakan Al Fatihah ataupun lainnya dari Al Qur’an” (Liqa’ al-Bab al-Maftuh, 12/16, Syaikh Ibnu Utsaimin disalin dari Kitab Ensiklopedia Bid’ah).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s