Apakah Makmum Mengangkat Tangan Dan Mengamini Imam Yang Qunut Shubuh?

Tanya: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,ustadz, ana mau bertanya ketika kita bermakmum kepada imam yang berqunut shubuh apakah harus ikut atau diam (tidak mengangkat tangan)? karena yang ana tahu qunut shubuh dalilnya dhaif. mohon penjelasannya. jazakallahu khair. (Abu Nabilah)

Jawab:
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Qunut shubuh termasuk perkara khilafiyyah, dan yang rajih bahwasanya amalan ini tidak disyariatkan karena tidak memiliki dalil yang shahih. Namun apabila imam berqunut shubuh maka hendaklah makmum mengikutinya, mengangkat kedua tangan dan mengamininya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إنما جعل الإمام ليؤتم به
“Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti” (HR.Al-Bukhari dan Muslim).
Beliau shallallhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
يصلون لكم فإن أصابوا فلكم وإن أخطؤوا فلكم وعليهم
“Mereka (imam-imam) tersebut shalat untuk kalian, kalau mereka benar maka kalian mendapat pahala, dan kalau mereka bersalah maka kalian mendapat pahala dan mereka menanggung kesalahannya” (HR. Al-Bukhary )
Imam Abu Dawud menyebutkan sebuah atsar dimana ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu shalat di Mina 4 rakaat dengan ijtihad beliau, maka Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (di Mina) 2 rakaat, dan bersama Abu Bakar 2 rakaat, dan bersama Umar 2 rakaat ” yaitu dengan mengqashar shalat 4 rakaat.
Akan tetapi ketika beliau shalat di belakang ‘Utsman beliau shalat 4 rakaat , maka beliau ditanya, kenapa melakukan demikian? Maka beliau menjawab: Perbedaan itu jelek ” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya 1/602 no: 1960)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
وكذلك إذا اقتدى المأموم بمن يقنت في الفجر أو الوتر قنت معه سواء قنت قبل الركوغ أو بعده وإن كان لا يقنت لم يقنت معه ولو كان الإمام يرى استحباب شيء والمأمومون لا يستحبونه فتركه لأجل الاتفاق والائتلاف : كان قد أحسن
“Dan demikian pula jika makmum di belakang imam yang berqunut shubuh atau witir maka dia juga berqunut, sama saja apakah qunutnya sebelum ruku’ atau setelahnya , kalau imam tidak berqunut maka makmum juga tidak berqunut, dan seandainya imam berpendapat mustahabnya sebuah amalan, dan makmum tidak berpendapat demikian maka jika imam meninggalkan amalan tersebut untuk mewujudkan kesepakatan dan kerukunan sungguh dia telah berbuat baik” (Majmu Al-Fatawa 22/267-268).
Beliau juga berkata:
ولهذا ينبغى للمأموم أن يتبع إمامه فيما يسوغ فيه الاجتهاد فاذا قنت قنت معه وإن ترك القنوت لم يقنت
“Oleh karena itu seyogyanya bagi seorang makmum mengikuti imam di dalam perkara yang boleh di dalamnya berijtihad, kalau imam qunut maka dia qunut, kalau imam meninggalkan qunut maka dia tidak qunut “(Majmu Al-Fatawa 23/115)
Syeikh Al-Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya permasalahan ini maka beliau mengatakan:
ثم إذا كان الإنسان مأموماً هل يتابع هذا الإمام فيرفع يديه ويؤمن معه، أم يرسل يديه على جنبيه؟
والجواب على ذلك أن نقول: بل يؤمن على دعاء الإمام ويرفع يديه تبعاً للإمام خوفاً من المخالفة. وقد نص الإمام أحمد – رحمه الله – على أن الرجل إذا ائتم برجل يقنت في صلاة الفجر، فإنه يتابعه ويؤمن على دعائه، مع أن الإمام أحمد – رحمه الله – لا يرى مشروعية القنوت في صلاة الفجر في المشهور عنه، لكنه – رحمه الله – رخص في ذلك؛ أي في متابعة الإمام الذي يقنت في صلاة الفجر خوفاً من الخلاف الذي قد يحدث معه اختلاف القلوب.
“Kemudian apabila seseorang menjadi makmum apakah mengikuti imam dan mengangkat tangan serta mengamini atau melepas kedua tangannya ke samping ? Jawabannya kita katakan: Hendaknya makmum mengamini doa imam dan mengangkat tangan untuk mengikuti imam, karena ditakutkan (kalau tidak mengikuti ) ini termasuk penyelisihan terhadap imam. Imam Ahmad rahimahullahu telah menegaskan bahwa seseorang jika bermakmum kepada seseorang yang melakukan qunut shubuh maka hendaklah mengikutinya dan mengamini doanya, padahal Imam Ahmad rahimahullah dikenal termasuk orang yang berpendapat tidak disyariatkannya qunut ketika shalat shubuh, akan tetapi beliau memberi keringanan dalam hal ini, yaitu dalam masalah mengikuti imam yang berqunut shubuh karena takut perselisihan yang akhirnya terjadi perselihan diantara hati” (Majmu Fatawa wa Rasail Syeikh Muhammad Al-Utsaimin 14/133)
Wallahu a’lam.

Sumber: http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com (diasuh oleh ustadz Abdullah Roy, Lc)

    • Syarif Hidayatullah
    • Mei 12th, 2010

    Assalamu’alaikum sebagai tambahan referensi bacaan di atas ana dapat artikel sbb:

    Jika Imam Membaca Qunut Shubuh

    Ustadz, bagaimana hukumnya orang yang menjadi makmumnya ahlul bid’ah? Apakah diperbolehkan seseorang mendirikan shalat berjamaah di asrama, dengan alasan masjid terdekat dari asrama imam rawatibnya biasanya melakukan ritual bid’ah sedangkan masjid yang lain jaraknya jauh? Misalnya, jika kita berkeyakinan bahwa qunut subuh adalah suatu bid’ah, maka bagaimana hukumnya jika kita menjadi makmumnya imam yang selalu mengamalkan qunut subuh, apakah boleh? Jazakallahu khairan

    Abu Abdirrahman
    Alamat: Jl. Mulyosari, Surabaya
    Email: emailkuxxxx@yahoo.com

    jawab:

    Pertama, shalat wajib berjama’ah di masjid hukum asalnya adalah wajib sebagaimana telah dijelaskan oleh Ustadz Kholid Syamhudi,Lc. Hafizhahullah pada artikel Hukum Shalat Berjama’ah Wajib Ataukah Sunnah.

    Kedua, sebagaimana telah diketahui penanya bahwa membaca doa qunut pada shalat shubuh secara rutin adalah perkara baru dalam agama. Meskipun memang sebagian Syafi’iyyah dan Malikiyyah menganggapnya disyariatkan. Penjelasan mengenai hal ini cukup panjang, namun ringkasnya, pendapat yang benar adalah bahwa hal tersebut termasuk perkara baru dalam agama dengan alasan berikut:

    1. Praktek membaca Doa Qunut yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam berdasarkan banyak hadits adalah Qunut Nazilah, yaitu doa Qunut yang dibaca karena adanya musibah besar yang menimpa kaum muslimin. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam mempraktekan hal tersebut tidak hanya pada shalat shubuh, namun pernah dilakukan pada seluruh shalat fardhu. Dan beliau tidak merutinkan membaca doa Qunut pada shalat shubuh meskipun memang praktek Qunut Nazilah yang beliau lakukan paling sering dilakukan ketika shalat shubuh. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyyah:

    وكان هديه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القنوت في النوازل خاصة ، وترْكَه عند عدمها ، ولم يكن يخصه بالفجر، بل كان أكثر قنوته فيها

    “Petunjuk dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam dalam masalah Qunut adalah hanya melakukannya jika terjadi nazilah (musibah besar) saja. Dan tidak melakukannya jika tidak ada nazilah. Tidak pula mengkhususkannya pada shalat shubuh, walaupun memang beliau paling sering membaca Qunut Nazilah ketika shalat shubuh (Zaadul Ma’ad, 1/273)”
    2. Terdapat hadits shahih dari Abu Malik bin Sa’id Al Asy-ja’i yang tegas menunjukkan bahwa membaca qunut pada shalat shubuh secara rutin tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat:

    عَنْ أَبِيهِ صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيٍّ فَلَمْ يَقْنُتْ ، ثُمَّ قَالَ يَا بُنَيَّ إنَّهَا بِدْعَةٌ } رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

    “Dari ayahku, ia berkata: ‘Aku pernah shalat menjadi makmum Nabi Shallallahu’alaihi Wassallam namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Abu Bakar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Umar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Utsman namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Ali namun ia tidak membaca Qunut. Wahai anakku ketahuilah itu perkara bid’ah‘” (HR. Nasa-i, Ibnu Majah, At Tirmidzi. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”)
    Dalam lafadz Ibnu Majah:

    قُلْت لِأَبِي يَا أَبَتِ إنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ ؟ قَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ

    “Abu Malik berkata: ‘Wahai ayah, engkau pernah shalat menjadi makmum Nabi Shallallahu’alaihi Wassallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali di kufah selama kurang lebih 5 tahun. Apakah mereka membaca qunut di shalat shubuh?’. Ayahku berkata: ‘Wahai anakku, itu perkara baru dalam agama’“
    3. Sedangkan hadits yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wassallam membaca qunut di shalat shubuh hingga wafatnya, telah dijelaskan oleh para ulama bahwa bukan lah maknanya merutinkan qunut, jika dilihat dari praktek beliau.

    وَأَمَّا حَدِيثُ أَنَسٍ { مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ : فَفِيهِ مَقَالٌ ، وَيُحْتَمَلُ : أَنَّهُ أَرَادَ بِهِ : طُولَ الْقِيَامِ ، فَإِنَّهُ يُسَمَّى قُنُوتًا

    “Adapun hadits ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam selalu qunut di shalat shubuh sampai berpisah dengan dunia‘ Hadits Riwayat Ahmad dan lainnya. Tentang makna Qunut di sini terdapat beberapa pendapat. Dan nampaknya maknanya adalah beliau shalat shubuh dengan waktu berdiri yang lama. Oleh karena itu dalam bahasa arab disebut juga Qunut” (Syarhu Muntahal Iradat, 45/2)

    Ketiga, mengenai shalat dibelakang imam yang melakukan bid’ah, selama bukan bid’ah yang menyebabkan kekafiran maka persoalan ini dibagi menjadi 2 bagian:

    1. Bolehkah dan sahkah shalatnya?
    Untuk menjawab pertanyaan ini, kami bawakan nasehat yang bagus dari Syaikh Rabi bin Hadi Al Madkhali:
    “Jika imam membaca doa qunut di shalat shubuh, maka ikutilah dia. Walau anda sebagai ma’mum berpendapat berbeda. Bahkan jika anda sebagai ma’mum menganggap shalat sang imam itu tidak sah menurut mazhab anda, namun sah menurut mazhab sang imam, anda tetap boleh berma’mum kepadanya. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan demikian, beliau bersabda:

    يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَإِنْ أخطؤوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

    “Shalatlah kalian bersama imam, jika shalat imam itu benar, kalian mendapat pahala. Jika shalat imam itu salah, kalian tetap mendapat pahala dan sang imam yang menanggung kesalahnnya” (HR. Bukhari no.662)
    Jika demikian, maka anda tetap boleh shalat bersama imam tersebut.

    Demikian juga yang dipraktekan oleh para salaf. Suatu ketika Khalifah Harun Ar Rasyid pergi berhaji lalu singgah di Madinah, kemudian berbekam. Kemudian ia bertanya kepada Imam Malik: “Aku baru berbekam, apakah aku boleh shalat tanpa wudhu lagi?”. Imam Malik menjawab: “Boleh”. Maka beliau pun mengimami shalat tanpa berwudhu lagi.

    Karena menurut mazhab Maliki Hanafi, bekam dapat membatalkan wudhu, orang-orang bertanya kepada Abu Yusuf Al Hanafi: “Bagaimana mungkin aku shalat bermakmum pada Khalifah Harun Ar Rasyid padahal ia belum berwudhu??”. Abu Yusuf berkata: “Subhanallah… Ia Amirul Mu’minin!”

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga memiliki pendapat dalam hal ini: “Jika anda bermakmum pada imam yang memiliki perbedaan pendapat dengan anda dalam masalah sah atau tidaknya shalat. Lalu anda berpendapat bahwa shalat yang dilakukannya itu tidak sah, namun ia memiliki hujjah dan dalil bahwa shalat yang ia lakukan sudah sah, maka anda boleh bermakmum kepadanya. Kecuali jika sang imam menegaskan bahwa ia belum berwudhu, misalnya ia berkata: ‘Saya belum berwudhu dan saya akan shalat tanpa wudhu’. Maka shalatnya tidak sah bagi si imam dan tidak sah pula bagi anda”.
    [Sampai di sini perkataan Syaikh Rabi’, dinukil dari http://www.rabee.net/show_fatwa.aspx?id=208%5D

    Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya juga membuat bab:

    باب إِمَامَةِ الْمَفْتُونِ وَالْمُبْتَدِعِ وَقَالَ الْحَسَنُ صَلِّ وَعَلَيْهِ بِدْعَتُهُ

    “Bab berimam kepada orang yang terkena fitnah atau mubtadi. Dan Al Hasan berkata: ‘Shalatlah bermakmum kepada mereka, sedangkan bid’ah yang mereka lakukan biarlah mereka yang menanggung’”. Perlu diketahui fiqih Imam Al Bukhari terdapat pada judul-judul babnya.

    Ringkasnya, anda boleh shalat dibelakang imam yang melakukan kesalahan dalam shalat semisal membaca doa qunut dalam shalat shubuh atau semacamnya, selama kesalahan tersebut bukan kesalahan yang secara ijma ulama dapat membatalkan shalat, seperti tidak berwudhu. Namun tetap disarankan untuk mencari masjid yang imamnya sesuai atau lebih mendekati sunnah jika memungkinkan.

    2. Apa yang harus dilakukan?
    Jika seseorang bermakmum dibelakang imam yang membaca doa qunut pada shalat shubuh, yang merupakan bid’ah, apakah ia ikut membaca doa bersama imam? Ataukah diam saja? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama.

    Pendapat pertama, yaitu mengikuti imam membaca doa qunut, mengingat perintah untuk mengikuti imam. Sebagaimana pendapat Abu Yusuf Al Hanafi yang disebutkan dalam Fathul Qadiir (367/2):

    وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ رَحِمَهُ اللَّهُ يُتَابِعُهُ ) لِأَنَّهُ تَبَعٌ لِإِمَامِهِ ، وَالْقُنُوتُ مُجْتَهَدٌ فِيهِ

    “Abu Yusuf rahimahullah berpendapat ikut membaca qunut. Karena hal tersebut termasuk kewajiban mengikuti imam. Sedangkan membaca qunut adalah ijtihad imam”

    Dalam Syarhul Mumthi’ Syarh Zaadul Mustaqni’ (45/4) kitab fiqh mazhab Hambali, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

    وانظروا إلى الأئمة الذين يعرفون مقدار الاتفاق، فقد كان الإمام أحمدُ يرى أنَّ القُنُوتَ في صلاة الفجر بِدْعة، ويقول: إذا كنت خَلْفَ إمام يقنت فتابعه على قُنُوتِهِ، وأمِّنْ على دُعائه، كُلُّ ذلك مِن أجل اتِّحاد الكلمة، واتِّفاق القلوب، وعدم كراهة بعضنا لبعض

    “Perhatikanlah para ulama yang sangat memahami pentingnya persatuan. Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca qunut ketika shalat shubuh itu bid’ah. Namun ia berkata: ‘Jika seseorang shalat bermakmum pada imam yang membaca qunut maka hendaknya ia mengikuti dan mengamini doanya’. Ini dalam rangka persatuan, dan mengaitkan hati dan menghilangkan kebencian diantara kaum muslimin”

    Pendapat kedua, diam dan tidak mengikuti imam ketika membaca doa qunut, karena tidak harus mengikuti imam dalam kebid’ahan. Dalam Fathul Qadiir (367/2), kitab Fiqih Mazhab Hanafi, dijelaskan:

    فَإِنْ قَنَتَ الْإِمَامُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَسْكُتُ مَنْ خَلْفَهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ رَحِمَهُمَا اللَّهُ .

    “Jika imam membaca doa qunut dalam shalat shubuh, sikap makmum adalah diam. Ini menurut Imam Abu Hanifah dan Muhammad rahimahumallah”

    Dalam Al Mubdi’ (238/2), kitab fiqih mazhab Hambali dikatakan:

    وذكر أبو الحسين رواية فيمن صلى خلف من يقنت في الفجر أنه يسكت ولا يتابعه

    “Abul Husain (Ishaq bin Rahawaih) membawakan riwayat tentang sahabat yang shalat dibelakang imam yang membaca qunut pada shalat shubuh dan ia diam”

    Namun perkara ini adalah perkara khilafiah ijtihadiyah, anda dapat memilih pendapat yang menurut anda lebih mendekati kepada dalil-dalil yang ada. Wallahu Ta’ala A’lam, kami menguatkan pendapat pertama, yaitu mengikuti imam berdoa qunut mengingat hadits tentang perintah untuk mengikuti imam meskipun imam melakukan kesalahan selama tidak disepakati oleh para ulama kesalahan tersebut dapat membatalkan shalat, sebagaimana telah dibahas di atas.

    Yang terakhir, perlu dicamkan bahwa dalam keadaan ini anda tetap berkewajiban untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Sebagaimana solusi yang disarankan oleh Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta:

    فإذا كان الإمام يسدل في صلاته ويديم القنوت في صلاة الصبح على ما ذكر في السؤال نصحه أهل العلم وأرشدوه إلى العمل بالسنة ، فإن استجاب فالحمد لله ، وإن أبى وسهلت صلاة الجماعة وراء غيره صُلِّيَ خلف غيره محافظةً على السنة ، وإن لم يسهل ذلك صُلِّيَ وراءه حرصاً على الجماعة ، والصلاةُ صحيحةٌ على كل حال .

    “Jika imam melakukan sadl atau merutinkan membaca doa qunut ketika shalat shubuh, sebagaimana yang anda tanyakan, katakan kepadanya bahwa para ulama menasehatkan dirinya untuk beramal dengan yang sesuai sunnah. Jika ia setuju, alhamdulillah. Jika ia menolak, maka bila anda dapat dengan mudah mencari masjid lain, shalatlah di sana. Dalam rangka menjaga diri agar senantiasa mengamalkan yang sunnah. Jika sulit untuk mencari masjid lain, maka anda tetap shalat menjadi makmum imam tersebut, dalam rangka melaksanakan kewajiban shalat berjama’ah” (Fatawa Lajnah Ad Daimah, 7/366)

    Wabillahi At Taufiq.

    ——-

    Artikel http://www.UstadzKholid.Com

    • Abu Afifah
    • Mei 12th, 2010

    Ada tambahan lagi masalah serupa dari majalah Assunnah, semoga dapat menambah referensi. Syukron.

    Soal :

    Bagaimana sikap makmum bila imam selalu membaca qunut shubuh?

    Yon Riyono, Jakarta 628135981xxxx

    Jawaban:

    Para Ulama berbeda pendapat tentang sikap makmum yang sholat di belakang imam yang qunut shubuh. Imam al-Wazir Ibnu Hubairah rahimahullah menyatakan : “ (Imam) Abu Hanifah dan (Imam) Ahmad berbeda pendapat tentang orang yang sholat dibelakang imamyang berqunut waktu shubuh : Apakah makmum tersebut mengikuti imam atau tidak? (Imam) Abu Hanifah berkata :”Dia tidak mengikuti imam”, (Imam) Ahmad berkata : “ Dia mengikuti imam”.(1)
    DR. Muhammad Ya’qub Thalib ‘Ubaidi menjelaskan alas an masing-masing pendapat diatas dengan menyatakan: “Abu Hanifah menjelaskan alasan makmum tidak mengikuti imam, yaitu bahwa qunut shubuh itu hukumnya mansukh (telah di hapuskan), sebagaimana takbir kelima pada shalat jenazah. Walaupun Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) berpendapat bahwa makmum mengikuti imam, sebagaimana pendapat Imam Ahmad, tetapi pendapat yang dipilih pada madzhab Hanafiyahadala makmum berdiri diam saja. Adapun Imam Ahmad menjelaskan alas an makmum mengikuti imam, yaitu agar makmum tidak menyelisihi imamnya, dan karena para sahabat, tabi’in, dan orang—orangsetelah mereka terus menerus bermakmum kepada sebagian yang lain, padahal ada perselisihan di antara mereka dalam masalah furu’ (cabang)”. (2)
    Pendapat yang rajih – wallahu a’lam adalah pendapat Hanafiyah, yaitu makmum tidak mengikuti imam, karena qunut shubuh terus-menerus tersebut tidak disyari’atkan di dalam shalat, sehingga makmum tidak perlu mengikuti imamnya. Hal itu sebagaimana ketika sahabat mengikuti perbuatan Rasullullah shollallahu’alaihiwassalam dalam melepas sandal ketika sholat, kemudian beliau menanyakan perbuatan para Sahabatnya yang mengikutinya itu, sebagai isyarat bahwa hal itu tidak perlu diikuti, wallahu a’lam. Hadistnya adalah sebagai berikut :

    Dari Abu Sa’aid al-khudri, dia berkata : “Tatkala Rasullullah shollallahu’alaihiwassalam sedang shalat dengan para Sahabat beliau, tiba-tiba beliau melepaskan kedua sandal beliau, lalu meletakkan kedua sandal tersebut ke sebelah kiri beliau. Ketika para sahabat melihat hal itu, mereka melepaskan sandal mereka. Setelah Rasullullah shollallahu’alaihiwassalam menyelesaikan shalatnya, beliau bertanya : “Apa yang menyebabkan kalian melepaskan sandal kalian? Mereka menjawab :”Kami melihat anda melepaskan kedua sandal anda, maka kamipun melepaskan sandal kami”. Maka Rasullullah shollallahu’alaihiwassalam bersabda : Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan memberitahukan kepadaku bahwa pada kedua sandal (ku) itu ada kotoran”. (HR.Abu Dawud, di shahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud no:650)

    Tetapi walaupun demikian, perbedaan pendapat dalam sikap makmum ini tidak boleh menjadikan kaum Muslimin saling membenci dan berpecah belah karenanya . Wallahu a’lam.

    (1) Kitab Al-Ifsah karya Ibnu Hubairah 1/324
    (2) Catatan kaki kitab Al Ifsahah karya Ibnu Hubairah 1/324

    (Sumber :Majalah ASSUNNAH EDISI 08/THN.XIII/DZULQA’IDAH 1430H/NOPEMBER 2009M, Soal-Jawab, halaman 5)

    • Albar Hadramaut
    • Mei 13th, 2010

    Assalamualaikum, perbedaan adalah rahmat. saya hanya memberikan masukan kpd saudara2 saya. doa qunut itu isinya khan baik tentu jika imam membacanya karena ada kebaikan yang mau dicapai. kecuali doa qunut itu isinya maksud jelek, maka makmum tidak usah mengamininya. Jangan jadikan pertentangan tapi lihatlah sesuatu itu baik gak?

    • Arif Syarifudin
    • Juni 23rd, 2010

    بسم الله الرحمن الرحيم
    الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، وبعد:

    Sebelum mengomentari pertanyaan di atas, ana nasihatkan kepada para ikhwah dan siapapun yang membaca bloq ini, agar berhati-hati dalam mengomentari setiap permasalahan ilmiyah. Ketika kita tidak memiliki pengetahuan maka diam itulah yang terbaik, daripada kita berbicara tanpa ilmu, karena itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
    Adapun komentar ana dalam masalah di atas adalah sebagai berikut:
    1. Apa yang telah dibawakan oleh Ust. Abdullah Roy dan Ust. Kholid Syamhudi sudah cukup memadai.
    2. Suatu kebid’ahan yang dilakukan oleh seseorang tidaklah melazimkan bahwa orang tersebut langsung dihukumi sebagai ahli bid’ah. Karena bisa jadi dia melakukannya berdasarkan ijtihad yang sampai kepadanya meskipun marjuh (tidak kuat) atau bersumber dari syubhat yang tak disadari atau karena kejahilan yang menyebabkan ia hanya bertaklid. Sehingga diperlukan adanya bayan (penjelasan) dan penegakkan hujjah serta menghilangkan syubhat yang ada.
    3. Diperlukan sikap bijak dan lapang dada dalam menyikapi perbedaan yang ada. Meski kita condong pada salah satu pendapat. (Lihat nasihat Syaikh Muhammad Al-Utsaimin di “Kitab Al-Ilmi” pada pembahasan “Aadaabu thaalibil ‘ilmi wal asbaabul mu’iinatu ‘alaa tahshiilihi” poin keempat).
    Hal ini tidak membenarkan apa yang dikatakan banyak orang bahwa “Perbedaan itu adalah rahmat”, sebab perkataan ini bersumber dari tersiarnya hadits yang disandarkan kepada Rasulullah  di tengah-tengah masyarakat, yaitu:
    (( اِخْتِلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ ))
    “Perbedaan umatku adalah rahmat.”
    Hadits ini tidak ada asalnya dari Rasulullah . Berikut penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani –rahimahullah- tentang hadits ini:
    (( اِخْتَلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ ))
    “Perselisihan/pertentangan umatku adalah rahmat.”
    [(Hadits ini) tidak ada asalnya (dari Nabi )]
    Sungguh para ahli hadits telah berupaya keras untuk menemukan sanad hadits ini, namun belum berhasil juga, sampai-sampai As-Suyuthi berkata dalam kitab “al-Jami’ ash-Shaghir”: “Barangkali (hadits ini) telah dicatat dalam sebagian kitab para hafizh (hadits-hadits) yang belum sampai kepada kita.”
    Akan tetapi menurut saya (Syaikh al-Albani, pent.) tidak mungkin, karena hal itu berarti melazimkan (pemahaman) bahwa ada sebagian dari hadits-hadits Nabi  yang hilang dari umat ini. Dan itu tidak pantas diyakini oleh seorang muslim.
    Al-Munawi menukil dari as-Subki yang mengatakan, “Dan ia (hadits ini) tidak dikenal di kalangan ahli hadits, dan saya belum menemukan sanadnya yang shahih, yang lemah (dha’if) maupun yang palsu (maudhu’) sekalipun.” Dan disepakati oleh Syaikh Zakaria al-Anshari dalam komentarnya terhadap kitab “Tafsir al-Baidhawi” (Q 92/2).
    Kemudian sesungguhnya makna hadits ini tertolak menurut para ulama peneliti. Al-‘Allamah Ibnu Hazm dalam kitab “al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam” (5/64), setelah mengisyaratkan bahwa ia bukanlah hadits (dari Nabi ), berkata,”Ini adalah di antara perkataan yang paling rusak, karena jikalau perselisihan/pertentangan itu adalah rahmat berarti kesepakatan/persatuan adalah angkara murka, dan itu tidak akan terucap oleh seorang muslim. Sebab tidak ada lagi selain persatuan atau perselisihan, tidak ada lagi selain rahmat dan angkara murka.” Di lain kesempatan beliau berkata, “(Hadits ini) batil dan dusta.”
    Adapun diantara dampak negatif dari hadits ini adalah bahwa banyak dari kaum muslimin, dengan sebab hadits ini, mereka menyetujui adanya perselisihan/pertentangan yang keras yang terjadi di antara (para pengikut) empat madzhab, sementara mereka tidak berusaha untuk merujuknya (mengembalikannya) kepada al-Kitab dan as-Sunnah yang shahih sebagaimana yang telah diperintahkan oleh imam-imam mereka sendiri –semoga Allah meridhai mereka-. Bahkan mereka (kaum muslimin) menganggap bahwa madzhab para imam itu tidak ubahnya sebagai syariat yang berbeda-beda! Mereka mengatakan yang demikian itu, meski mereka mengetahui bahwa perselisihan dan pertentangan di antara madzhab-madzhab tersebut tidak mungkin dikompromi kecuali dengan cara menolak sebagiannya yang (jelas) menyelisihi dalil dan menerima sebagian yang lain yang sesuai dengan dalil, tapi itu tidak mereka lakukan! Dengan demikian berarti mereka telah menyatakan adanya pertentangan di dalam syariat! Hal ini saja sudah (cukup) menjadi petunjuk bahwa perselisihan/pertentangan itu bukan dari Allah kalulah mereka mau memperhatikan firman-Nya terkait dengan al-Qur’an,
              
    ” … Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisaa’:82)
    Ayat ini terang-terangan menunjukkan bahwa perselisihan/pertentangan itu bukan berasal dari Allah. Kalau begitu bagaimana ia bisa dijadikan sebagai sebuah syariat yang diikuti dan menjadi suatu rahmat yang diturunkan?
    Dan dengan sebab hadits ini pula serta hadits-hadits lain yang semisalnya, kebanyakan kaum muslimin (yang datang) setelah para imam yang empat menjadi berselisih/bertentangan dalam banyak permasalahan akidah dan praktek amaliah. Kalau saja mereka memandang bahwa perselisihan/pertentangan itu adalah suatu keburukan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud dan sahabat lainnya  dan sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi  yang banyak tentang ketercelaannya, niscaya mereka akan berusaha untuk bersepakat dan niscaya mereka mampu melakukannya dalam kebanyakan permasalahan (yang diperselisihkan) di atas dengan dalil-dalil yang telah Allah tetapkan untuk setiap permasalahan tersebut yang dengannya dapat diketahui antara yang benar dan yang salah, yang haq dan yang batil, kemudian mereka akan saling bertoleransi satu sama lain dalam perkara yang mungkin mereka perselisihkan. Akan tetapi, untuk apa usaha ini (dilakukan) sementara mereka masih beranggapan bahwa perselisihan/pertentangan itu adalah rahmat dan bahwa madzhab-madzhab yang berbeda-beda itu bagaikan syariat-syariat yang berbeda-beda! Dan jika anda ingin mengetahui salah satu pengaruh dari kerasnya perselisihan/pertentangan ini, maka lihatlah di banyak masjid di mana anda mendapati di dalam masjid-masjid tersebut terdapat empat mihrab yang akan ditempati oleh empat imam (dari madzhab yang berbeda-beda) di dalam shalat! Masing-masing imam memiliki jama’ah tersendiri yang menunggu shalat bersama imam mereka seolah-olah mereka adalah penganut agama yang berbeda! Bagaimana tidak (terjadi demikian)?! Sementara orang alim dari mereka (kenyataannya) mengatakan, “Sesungguhnya madzhab-madzhab para imam (yang empat) itu seperti syariat-syariat yang berbeda.” Mereka melakukan hal itu dalam keadaan mereka mengetahui sabda Rasulullah ,
    (( إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ )) رواه مسلم وغيره
    “Apabila telah dikumandangkan iqamah untuk shalat, maka tidak ada shalat kecuali yang fardhu.” (Hr. Muslim dan yang lainnya)
    Akan tetapi mereka menyatakan kebolehan menyelisihi hadits ini dan yang semisalnya demi menjaga madzhab mereka, seolah-olah madzhab itu menurut mereka adalah sesuatu yang harus lebih diagungkan dan dipelihara ketimbang hadits-hadits Nabi !
    Intinya bahwa perselisihan/pertentangan itu tercela dalam syariat, sehingga wajib berusaha sebisa mungkin untuk dapat terlepas dari belenggu perselisihan/pertentangan tersebut, karena hal itu merupakan salah satu sebab lemahnya umat Islam sebagaimana yang Allah firmankan,
        
    ” …. dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu … ” (QS. al-Anfaal:46)
    Adapun ridha dengan adanya perselisihan/pertentangan lalu menyebutnya sebagai rahmat maka jelas bertentangan dengan ayat-ayat yang mulia yang terang-terang menyebutkan ketercelaannya, sementara hal itu tidak memiliki sandaran kecuali hadits yang tidak ada asalnya dari Rasulullah  (yang sedang kita bicarakan) ini.
    Dari situ mungkin muncul sebuah pertanyaan: “Sesungguhnya para sahabat telah berselisih sedangkan mereka adalah sebaik-baik umat manusia, maka apakah mereka juga terkena dengan ketercelaan tadi?”
    Pertanyaan ini pernah dijawab oleh Ibnu Hazm – رحمه الله تعالى -, beliau berkata ,”Sekali-kali merka (para sahabat) tidak tersentuh dengan ketercelaan itu sedikitpun, karena masing-masing dari mereka berusaha menuju jalan dan petunjuk Allah yang haq, dimana seorang yang jatuh dalam kesalahan di antara mereka tetap diberi satu pahala karena niatnya yang mulia demi menginginkan kebaikan dan telah dihilangkan dosa dari kesalahan mereka karena mereka tidak menyengajanya sementara mereka tidak meremehkan usaha mereka (dalam mencari kebenaran). Sedangkan yang menepati kebenaran di antara mereka diberi dua pahala. Begitulah (keadaan) setiap muslim sampai hari kiamat dalam urusan agama yang tersembunyi baginya maupun yang belum sampai kepadanya. Dan sesungguhnya ketercelaan yang dimaksud dan ancaman yang tersebut dalam nash (ayat maupun hadits) tidak lain hanyalah tertuju kepada orang yang meninggalkan keterikatan dengan tali Allah yaitu al-Qur’an dan sabda Nabi  setelah sampai kepadanya nash (ayat atau hadits) dan setelah tegaknya hujjah atas dirinya, lalu dia mengikat dirinya dengan fulan dan fulan seraya bertaklid, menyengaja berselisih, menyeru kepada fanatisme (madzhab) dan semangat ala jahiliyyah, menyengaja (membuat) perpecahan dan berupaya –menurut dakwaannya- untuk mengembalikan (kebenaran maksud) al-Qur’an dan as-Sunnah itu kepadanya (pendapat madzhab), jika nash (ayat atau hadits) sesuai dengan pendapat madzhabnya dia ambil sedangkan jika menyelisihinya maka dia berpegang dengan (fanatisme) ala jahiliyahnya dengan meninggalkan al-Qur’an dan sabda Nabi . Orang-orang yang berselisih semacam inilah yang tercela.
    Sementara itu ada golongan yang lain, yaitu mereka yang memiliki agama yang tipis lagi kurang ketakwaannya yang karenanya menyeret mereka untuk mencari-cari apa saja yang sejalan dengan hawa nafsu mereka dari pendapat setiap orang. Mereka mengambil apa saja yang ringan-ringan (rukhshah) dari pendapat setiap ulama lalu bertaklid kepadanya tanpa mencari apa yang diwajibkan oleh nash yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya .”
    Lalu –di akhir perkataannya- beliau (Ibnu Hazm) mengisyaratkan tentang talfiq yang dikenal di kalangan ahli fikih, yaitu mengambil pendapat seorang ulama tanpa dalil melainkan semata-mata mengikuti hawa nafsu atau rukhshah-rukhshah, dimana mereka (ahli fikih) berbeda pendapat mengenai kebolehannya, meski yang benar adalah diharamkannya hal itu karena beberapa sebab yang tidak dapat dijelaskan di sini. Sedangkan pembolehan perbuatan (talfiq) ini –di antaranya- diilhami oleh hadits (yang kita bahas) ini yang juga dijadikan sandaran oleh orang yang mengatakan, “Barangsiapa bertaklid kepada seorang alim maka ia akan menjumpai Allah dalam keadaan selamat.”!
    Semua itu di antara sekian dampak (buruk) dari hadits-hadits yang lemah. Maka berhati-hatilah dari (hadits-hadits lemah semacam) itu jika kamu (benar-benar) ingin selamat “pada hari dimana tiada bermanfaat harta dan anak keturunan kecuali seorang yang menghadap Allah dengan hati yang suci (bersih).”
    [Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah wa Atsaruha as-Sayyi’u fi al-Ummah 1/141-144, karya asy-Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani – رحمه الله تعالى -]

    Demikian yang bisa ana bawakan dalam masalah ini. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lamu bish shawab.
    وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا، والحمد لله رب العالمين.

    • Arif Syarifudin
    • Juni 23rd, 2010

    Koreksi ayat:
    – وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفًا كَثِيرًا
    ” … Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisaa’:82)

    – وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
    ” …. dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu … ” (QS. al-Anfaal:46)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s