Antara Seorang Manager Dengan Buruh Pabrik

Abu Harun As Salafy

Pernahkah engkau melihat pekerjaan seorang manager? Duduk di belakang meja menghadap laptop/notebook, menganalisa data, jika ada yang kurang beres hanya menyuruh teamnya untuk mengecek hal itu. Jika ada yang diperlukan tinggal panggil adminnya untuk menyediakan datanya. Fasilitasnya lengkap dengan internet 24 jam, telepon, HP atau BlackBerry dan disediakan mobil plus uang BBM dari perusahaan. Inilah seorang manager. Pekerjaannya ringan dengan gaji tinggi. Di akhir tahun selalu ada bonus tahunan dan di setiap bulan selalu ada insentif bulanan. Wow betapa  senangnya. Demikian pula pekerjaan seorang supervisor atau teamleader, duduk manis dan tinggal menunggu laporan harian, mingguan, dan seterusnya dari bawahannya mereka masing-masing.

Tahukah engkau kenapa demikian? karena mereka semua ini, orang-orang pintar ini memiliki ilmu, analisa, dan daya estimasi yang tinggi yang dengannya ia dibanggakan sehingga perusahaan berani menggaji tinggi untuknya. Ia bekerja dengan ilmunya.

Demikianlah perumpamaan ahli ilmu. Seorang Ahlus Sunnah Sunniy Salafy lebih berjuang untuk menuntut ilmu yang dengannya sebagai bekal untuk beribadah kepada Rabb-nya. karena ilmu menyuruh dia untuk beramal, ilmu menyuruh dia untuk berdakwah. Karena itulah Al Imam Bukhari membuat bab Al Ilmu Qoblal Qouli wal ‘Amal. Ilmu didahulukan sebelum berkata dan beramal. Dengan ilmu itulah ia tahu bagaimana cara beribadah kepada Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala berani membayar pahala yang lebih untuknya karena si hamba ini beribadah kepadanya dengan ilmu, bukan dengan hawa nafsu dan ibadahnya adalah sesuai dengan syariat dan tidak menyimpang. Benar dan tepat. Sesuai dengan sunnah dan sesuai dengan yang dimaukan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam.

Sekarang, pernahkahkah engkau melihat pekerjaan seorang buruh pabrik? kerja banting tulang memeras keringat, pergi pagi pulang malam mengejar target yang sudah ditetapkan untuknya, sibuk mondar mandir, cape, letih, dan terpaksa lembur (bila perlu). Semua dilakukan walau hanya untuk sesuap nasi, dan mencukupi keluarga (bila cukup). Jangan harap ada fasilitas, bisa kerja aja sudah bersyukur. Gaji mereka kecil, itulah sebabnya mereka terkadang masih mencari obyekan di luar dan kalau ada lemburan mereka seneng banget. Makanya mereka jarang di rumah karena kebanyakan kerja diluar dan cari obyekan. Demikian pula kuli, karyawan biasa, dan selainnya. Mereka cape karena disuruh-suruh atasan. Walaupun mereka cape kerja tapi tetap saja gajinya kecil dan masih jauh dari cukup.

Tahukah engkau kenapa demikian? karena mereka semua lebih mengandalkan fisik dalam bekerja, mengandalkan otot dalam rutinitas hariannya. Yang mereka banggakan di hadapan atasanya adalah rajin bekerja dan tidak mengeluh ndak peduli bener atau salah yang penting kelihatan rajin dan semangat. Itulah mereka, para kuli, buruh dan karyawan biasa,

Demikianlah perumpamaan ahli bid’ah. Seorang Ahlul Bid’ah wa Dholal lebih “rajin” dalam ibadah mereka, sholat semalam suntuk 1000 rokaat (??), puasa setiap hari sampai-sampai ndak sempet nikah karena sibuk ibadah, zikir dari kepala sampai kaki bergoyang menimbulkan gempa dengan zikirnya itu (??). ndak peduli bener atau salah karena hanya Allah yang berhak menilai (??) yang penting mereka ibadah.

Itulah kebodohan Ahlul Bid’ah. Kasihan sekali mereka, jungkir balik sholat tapi sama sekali ndak mendapat pahala dari Allah Subhanahu wata’ala karena apa-apa yang mereka lakukan adalah bid’ah, menyimpang dari aturan agama dan menyelisihi dari ajaran nabi kita Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam. Allah Azza wajalla dan rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam telah menetapkan agama ini dengan sempurna dan hikmah diutusnya nabi kita Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam adalah untuk mengajarkan kepada ummat bagaimana tata cara beribadah kepada Rabb-nya. Naah di Ahlul Bid’ah ini menympang.

Apa pendapatmu kawan, jika seorang karyawan di sebuah perusahaan tidak menjalankan SOP (Standart Operation Prosedure) perusahaan? Alih-alih mendapatkan gaji tinggi, justru dia dipecat atau disuruh mengundurkan diri karena menyelisihi aturan perusaaan. Ini kehidupan duniawi. Apalagi dalam hal agama Islam, Allah Azza wajalla ndak akan memberikan pahala justru akan beri dia dosa akibat penyimpangan dia dalam agama.

Wallahu a’lam.

[Faidah ini diambil dari catatan taklim kajian rutin kitab Ushulus Tsalatsah oleh Al Ustadz Abdullah Sya’roni di masjid Nurul Haq, Rawa Lumbu, Bekasi]

__________
Footnote

Hal ini tidak kami maksudkan untuk menjunjung tinggi para bos eksekutif ataupun merendahkan para buruh, kuli dan selainnya, bukan. Karena semuanya sama derajatnya di sisi Allah Subhanahu wata’ala, dan yang paling tinggi derajatnya adalah yang paling bertakwa. Tapi ini hanya sekedar perumpamaan saja dengan ahli ilmu dan ahli bid’ah. Mohon maaf semoga bisa dimaklumi.

Sumber: File Chm Antara Seorang Manager Dengan Buruh Pabrik dari:

http://sunniy.wordpress.com | Menebar Ilmu & Tegakkan Sunnah

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلىَ الْيَبَسِ
Kau dambakan keselamatan tapi engkau tak menempuh jalurnya.
Sungguh bahtera tak kan pernah berlayar di daratan

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s