Sekolah untuk Kebahagian yang Hakiki

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

“Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami)” (Al-Furqan : 74)

Tentu setiap muslim, hamba Allah Yang Maha Pengasih sangat mendambakan apa yang mereka selalu panjatkan dalam doa yang diajarkan Allah di atas. Namun banyak orang tidak bisa menghayati dan menjiwai doa tersebut dengan baik, sehingga mereka salah memaknai keturunan yang dapat menyenangkan hati yang selau mereka minta dalam doa itu. Kebanyakan orang lebih condong memaknai keturunan yang menyenangkan hati itu sebagai anak cucu yang berparas ganteng atau cantik berfisik baik dan menguntungkan di kehidupan dunia bagi diri sang anak sendiri, orang tua dan keluarganya. Sehingga kita melihat sebagian kaum muslimin berbondong-bondong mendidik anak mereka untuk mendapatkan doa yang salah mereka pahami, seolah-olah anak mereka tidak akan bahagia dan tidak akan membahagiakan mereka kecuali dengan pendidikan duniawi saja. Jelas pemikiran seperti ini bersumber dari pemahaman materialis yang hanya meyakini kebahagian itu datang dari harta benda.

Belajar ilmu duniawi tidaklah haram bahkan fardhu kifayah, namun belajar ilmu duniawi bukan faktor utama untuk mendapat kebahagian dan bahkan bukan faktor utama untuk mendapatkan kekayaan. Karena pada hakekatnya kekayaan yang akan kita dapatkan sudah ditaqdirkan oleh Allah sebelum kita lahir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ  ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ.

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَبْدٌ لِيَمُوْتَ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرَ رِزْقً هُوَ لَهُ فَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ

“Sesungguhnya seorang hamba tidak akan mati sampai ia mendapatkan rizki terakhirnya, oleh karena itu carilah rezeki dengan cara yang baik.” (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi).

Hadits ini tetap memerintahkan kita mencari rezeki. Namun dengan jelas disebutkan ilmu dunia bukan sarat mutlak orang mendapatkan kekayaan apalagi kebahagiaan. Bahkan di kehidupan dunia ini banyak kita melihat milyarder yang bukan jebolan universitas.

Lantas apa makna qurrata a’yun dalam doa yang diajarkan Allah di atas?

Ibnu ‘Abbas (ahli tafsir sahabat Rasulullah ) berkata: “maksudnya adalah keturuanan yang mengerjakan ketaatan sehingga membahagian orang tuanya di dunia dan akhirat.” (lihat tafsir Ibnu Katsir surat al-Furqan ayat 74).

Keturunan yang taat pada Allah akan menyenangkan orang tua dengan bakti dan pelayanannya. Akan menyejukkan hati orang tua dan keluarga dengan membacakan dan mengajarkan mereka mentadabburi al-Quran dan as-Sunnah. Keturunan yang taat pada Allah juga lebih bisa diharapkan menjaga keutuhan keluarga di atas agama yang mulia ini dan lebih bisa diharapkan doanya dikabulkan Allah untuk kebaikan orang tua dan keluarga.

Betapa bahagianya kehidupan keluarga yang diberkati Allah karena keturunannya yang taat pada Allah. Lebih bahagia lagi orang tua ketika mendapat pahala yang tak akan pernah putus karena mereka telah berhasil melahirkan anak-anak yang shalih dan taat, yang lidah mereka selalu basah dengan dzikir dan bacaan al-Quran maupun hadits.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه

“Jika anak Adam meninggal maka seluruh amal shalihnya terputus kecuali dari tiga pintu: sedekah jariyah (yang terus bisa dimanfaatkan oleh orang lain), ilmu yang bisa diambil manfaatnya (oleh orang lain) dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim).

Orang tua yang mendidik anaknya dengan pendidikan yang agamais di lembaga pendidikan yang mengedepankan al-Quran dan Sunnah sehingga sang anak menjadi penyeru agama Allah akan mendapatkan ketiga pintu dalam hadits di atas.

Betapa tidak, dengan hartanya, orang tua telah bersedekah menghasilkan anak yang bermanfaat untuk keluarga dan masyarakat muslim. Dengan usahanya, orang tua telah menanam ilmu dalam diri anaknya, ilmu yang bermanfaat untuk kaum muslimin. Dengan usahanya, orang tua akan selalu mendapatkan doa anaknya yang shalih.

Bahkan setiap ibadah yang dikerjakan oleh anak yang shalih dan murid-murid yang berguru pada anaknya yang shalih, orang tuapun akan mendapat bagian pahala tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلى هُدىً كَانَ لَهُ مِنَ الأَجرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيئاً

“Barang siapa yang mengajak pada petunjuk maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya. Dan hal tersebut tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim).

Mengajak dalam hadits tersebut termasuk mengajak pada sebab-sebab untuk mendapat petunjuk baik dengan perkataan maupun harta. Seperti mengajak dan memerintahkan anak untuk sekolah di lembaga yang mengedepankan pelajaran agama menurut al-Quran dan Sunnah sesuai dengan pengamalan Rasulullah dan para sahabat beliau.

Anda yang punya keturunan memiliki pula kesempatan untuk mendapat kebahagian dunia dan akhirat ini.

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا

“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya.” (QS. Al-Maidah: 48)

Dan ingat kebahagian dan kekayaan bukan terletak pada banyaknya harta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ الْغِنَى لَيْسَ عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Wahai manusia, sesungguhnya kekayaan itu bukan dari kekayaan harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.” (HR. Abu Ya’la).

Oleh : Fachruddin Abdurrahman

Sumber: http://alhujjah.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s