Kitab Tauhid

Firman Allah (yang artinya): “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QA. Adz-Dzariyat: 56)

Maksudnya: “Dan sama sekali tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia untuk suatu tujuan. Aku menciptakan mereka hanya demi satu tujuan, yaitu agar mereka beribadah kepada-Ku.” Ayat ini mengandung penjelasan tentang tauhid, karena para ulama salaf menafsirkan kata illa liya’buduun dengan: “Kecuali untuk mengesakan-Ku”.

Dalil pemahaman ini adalah: Sesungguhnya para rasul diutus untuk menerapkan tauhid ibadah. Sedangkan hakikat dari ibadah adalah: rasa patuh dan tunduk. Dengan demikian bila rasa cinta dan ketaatan telah menyertai keduanya, maka terwujudlah ibadah yang sesuai dengan tuntunan syariat. Dan dalam syariat, ibadah bermakna: menjalankan perintah dan meninggalkan larangan dengan penuh rasa cinta, harap, dan cemas.

Syaikh Islam menuturkan: Ibadah adalah suatu ungkapan yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berbentuk perkataan dan perbuatan, yang lahir maupun yang batin.

Dengan demikian, kandungan makna ayat ini: Sesungguhnya setiap bentuk ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah semata, bukan kepada selain-Nya.

Firman Allah (yang artinya),”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Ayat ini menafsirkan makna ibadah dan tauhid, juga menjelaskan bahwa seluruh rasul diutus dengan membawa dua kalimat ini: “Beribadahlah kepada Allah dan jauhilah thaghut.” Inilah makna At-Tauhid, karena firman-Nya a’buduullah terdapat ikrar tentang tauhid, dan pada firman-Nya: wajtanibuu ath-thaghuut terdapat pengingkaran terhadap kesyirikan.

Dan kata ath-Thaghuut adalah kata yang memiliki wazan/timbangan fa’luut dari kata thughyaan, artinya: setiap hal yang menyebabkan seseorang melampaui batasan Allah, baik berbentuk sesembahan, atau suatu panutan, atau pemimpin.

Firman Allah yang artinya: “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Israa’:23). Wa qodho Robbuka artinya: (Rabbmu) memerintahkan dan mewasiatkan, alla ta’buduu illa iyyahu artinya: kamu membatasi ibadah hanya untuk-Nya semata, tidak (menujukan ibadah tersebut) kepada selain-Nya. Dia memerintahkan dan mewasiatkan dengan hal ini. Maksud ayat itu selaras dengan makna kalimat Laa ilaha illallah. Kandungan ayat itu secara jelas menunjukkan kepada makna tauhid, yaitu: mengkhususkan peribadahan hanya kepada Allah semata. Dengan demikian tauhid merupakan realisasi dari kalimat Laa ilaha illallah.

Firman Allah (yang artinya): “Katakanlah (Muhammad): Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Rabbmu, yaitu: Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya.” (QS. Al-An’am:151). Penjabarannya: Katakan: marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhanmu atasmu, (yaitu) Dia mewasiatkan kepadamu agar kamu sedikitpun tidak berbuat syirik pada-Nya. Yang dimaksud (mewasiatkanmu) adalah “memerintahkan kamu”. Kata “wasiat” yang dimaksud disini adalah wasiat menurut istilah syariat. Dengan demikian, ia bermaknakan perintah yang wajib dilaksanakan. Petunjuk ayat ini tentang makna tauhid serupa dengan ayat sebelumnya.

Firman Allah (yang artinya): “Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’: 36)

Ayat ini melarang segala bentuk kesyirikan; syirik akbar (besar), ashghar (kecil), dan khofy (samar). Ayat ini melarang menjadikan malaikat, nabi, orang shalih, bebatuan, pepohonan, atau jin sebagai sekutu (bagi Allah), dikarenakan kesemuanya itu tercakup oleh kata syaiaa “sesuatu apapun”.

Ibnu Mas’ud berkata yang artinya: Barangsiapa yang hendak melihat wasiat Nabi Muhammad, yang telah beliau stempel, maka bacalah firman Allah Ta’ala yang artinya: “Katakanlah (Muhammad): Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu; janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya” sampai pada firman-Nya (yang artinya): “Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (selainnya).”

Maksud beliau: Andai beliau berwasiat, dan wasiat tersebut beliau tercap dengan stempel, kemudian dibuka setelah beliau wafat, niscaya sepuluh wasiat yang terkandung pada ayat inilah yang akan menjadi wasiat beliau.

Ibnu Mas’ud menuturkan yang demikian ini untuk menjelaskan akan keagungan ayat-ayat yang dimulai dengan larangan dari perbuatan syirik. Yang demikian itu menunjukkan bahwa larangan dari perbuatan kesyirikan merupakan kewajiban yang paling utama, awal, dan paling penting.

Sahabat Mu’adz bin Jabal menuturkan: “Aku pernah membonceng Nabi menunggang seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku: Wahai Mu’adz, tahukah kamu, apa hak Allah atas hamba-Nya, dan apa hak hamba atas Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliaupun bersabda: Hak Allah atas hamba ialah: agar mereka beribadah hanya kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sedangkan hak hamba atas Allah ialah: Allah tidak mengadzab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Mendengar sabda beliau ini, akupun bertanya: Ya Rasulullah, bolehkan aku sampaikan kabar gembira ini kepada orang lain? Beliau menjawab: Jangan kamu sampaikan kabar gembira ini, khawatir mereka akan bermalas-malasan (untuk beramal).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hak Allah atas hamba ialah agar mereka beribadah hanya kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Hak ini merupakan hak Allah yang wajib dipenuhi, karena Al-Qur’an dan As-Sunnah, bahkan seluruh rasul datang guna mengemban dan menyampaikan misi ini. Hak-hak ini merupakan kewajiban paling utama yang harus ditunaikan oleh setiap hamba.

(Hak hamba atas Allah): Para ulama sepakat bahwa hak ini adalah hak yang Allah wajibkan sendiri atas Diri-Nya. Sebagaimana dengan hikmah Allah, Ia mengharamkan atas Diri-Nya apa yang Ia kehendaki, Ia juga mewajibkan atas Diri-Nya apa yang Ia kehendaki, sesuai dengan hikmah-Nya pula. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits qudsi,”Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas Diri-Ku.”

Kandungan bab ini:

  1. Hikmah penciptaan jin dan manusia.
  2. Bahwa ibadah adalah hakikat dari tauhid, karena inti pertentangan yang terjadi antara setiap rasul dan umatnya hanyalah dalam masalah ini.
  3. Barangsiapa yang tidak merealisasikan tauhid, maka ia belum beribadah sepenuhnya kepada Allah. Inilah makna dari firman Allah (yang artinya): “Dan kamu sekalian bukanlah penyembah Rabb yang aku sembah.” (QS. Al-Kaafirun: 3).
  4. Hikmah diutusnya para rasul.
  5. Sesungguhnya pengutusan para rasul telah mencakup seluruh umat manusia.
  6. Sesungguhnya agama seluruh nabi adalah satu; yaitu memurnikan tauhid kepada Allah dan menjauhi kesyirikan.
  7. Masalah yang sangat urgen: Bahwa peribadatan kepada Allah tidak akan terwujud kecuali dengan kufur (mengingkari peribadahan) kepada thaghut. Inilah pengertian dari firman Allah yang artinya: “Barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang kuat.” (QS. Al-Baqarah: 256).
  8. Pengertian thaghut bersifat umum, mencakup setiap yang disembah selain Allah.
  9. Kandungan tiga ayat dalam surat Al-An’am begitu agung menurut ulama salaf. Padanya terdapat sepuluh pokok masalah, dan masalah pertama adalah: larangan dari perbuatan syirik.
  10. Ayat-ayat muhkam yang tersebut dalam surat Al-Israa’, yang di dalamnya terkandung delapan belas pokok masalah, Allah memulainya dengan firman-Nya:
  • “Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan lain, agar kamu tidak menjadi tercela dan ditinggalkan (Allah).” (QS. Al-Israa’: 22)
  • “Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan lain, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke Neraka Jahannam dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Israa’:39)
  • Dan Allah mengingatkan kita akan pentingnya permasalahan-permasalahan ini dengan berfirman (yang artinya), “Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Rabbmu kepadamu.” (QS. Al-Israa’: 39)
  1. Ayat dalam surat An-Nisa’ yang dijuluki dengan ayat sepuluh hak, Allah Ta’ala memulainya dengan firman-Nya (yang artinya), “Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’:36)
  2. Mengingatkan wasiat Rasulullah yang beliau sampaikan sebelum meninggal dunia.
  3. Mengetahui hak Allah yang harus dilaksanakan oleh setiap hamba.
  4. mengetahui hak hamba apabila mereka menunaikan hak Allah.
  5. Permasalahan ini tidak diketahui oleh sebagian besar sahabat.
  6. Dibolehkannya menyembunyikan ilmu demi kemaslahatan.
  7. Disunnahkan memberikan kabar gembira kepada sesame muslim.
  8. Rasulullah merasa khawatir terhadap sikap bersandar diri pada luasnya kerahmatan Allah.
  9. Jawaban seorang yang ditanya, bila dia tidak tahu jawabannya: “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.”
  10. Dibolehkan untuk mengkhususkan sebagian orang dalam hal pengajaran ilmu.
  11. Kerendahan hati Rasulullah, sehingga beliau tidak merasa sungkan untuk menunggang keledai dan memboncengkan orang lain bersamanya.
  12. Dibolehkan memboncengkan orang lain di atas binatang tunggangan.
  13. Keutamaan Mu’adz bin Jabal
  14. Keagungan permasalahan Tauhid.

Ditulis ulang dengan sedikit perubahan dari Syarah Kitab Tauhid (Judul Asli “An-Nahjus Sadiid fi Syarhi Kitaabit Tauhiid), Penulis: Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab; Pensyarah: Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alu Syaikh; Penerjemah: Dr. Muhammad Arifin bin Badri, MA dkk (Penerbit: Pustaka Darul Ilmi).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s