Tanya Jawab

Assalamu’alaikum,

Majlismalamkamis memfasilitasi bagi pengunjung yang akan bertanya mengenai permasalahan dien, yang akan di asuh oleh Ustad Arif Syarifuddin, LC, hafidzahullah, beliau alumnus Universitas Madinah yang sekarang ini  menjadi pengajar di Ma’had Islamic center Bin Baz Yogyakarta.

Semoga pengunjung dapat mengambil manfaat. Amin

Wassalamu’alaikum,

Majlismalamkamis

    • Abu Luqman
    • April 26th, 2010

    Assalamu ‘alaikum,

    Ustadz, bolehkah kita menghadiri halaqoh2 yang tidak bermanhaj salaf?

    Jazakallah khairan katsiro

    Abu Luqman

      • Arif Syarifudin
      • Mei 2nd, 2010

      Wa’alaikumussalam warahmatullah
      Jika yang dimakasud adalah halaqah2 ahli bid’ah maka hal itu tidak diperbolehkan. Banyak perkataan Salaf yang melarang kita duduk bersama ahli bid’ah, di antaranya:
      Al Hasan (al Bashri) berkata, “Janganlah kamu duduk bersama ahli bid’ah karena akan membuat hatimu terkena penyakit (yakni syubhat).”
      Sufyan ats-Tsauri berkata, “Barangsiapa yang duduk bersama ahli bid’ah maka tidak akan selamat dari salah satu di antara tiga perkara: bisa jadi hal itu akan menjadi fitnah bagi orang lain, atau bisa jadi akan tertanam dalam hatinya sesuatu (yakni penyakit syubhat)lalu ia pun tergelincir (dari jalan yang lurus) sehingga Allah memasukkannya ke dalam neraka, atau bisa jadi ia akan mengatakan, ‘Demi Allah saya tidak perduli dengan apa yang mereka ucapkan, saya percaya pada diri saya sendiri.’ Barangsiapa yang merasa aman (atas makar Allah) terhadap agamanya dalam sekejap mata, niscaya akan Allah hilangkan agamanya itu (dari dirinya)’.”
      Katsir Abu Said mengatakan, “Barangsiapa duduk bersama ahli bid’ah maka akan dicabut darinya ‘ishmah (penjagaan Allah terhadap dirinya) dan akan dibiarkan mengurus dirinya sendiri.”
      Bahkan jika seseorang duduk bersama mereka kemudian menghormati dan memuliakan mereka (atas kebid’ahan yang mereka lakukan) maka dia telah dianggap ikut berperan menghancurkan agama ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi ahli bid’ah dalam rangka memuliakannya maka dia telah ikut membantu menghancurkan Islam.”
      Wallahu A’lam bish Shawab

    • Abu Luqman
    • Mei 3rd, 2010

    Alhamdulillahi Rabbil ‘alamain, sekarang lebih jelas bagi ana insya Allah Ta’ala dan membuat kaki ini bertambah mantap berdiri dan berjalan di manhaj yang haq ini yaitu manhaj para sahabat (shalaful Ummah).

    Afwan ustadz kalo boleh ana tahu riwayat siapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tsb :
    “Barangsiapa yang mendatangi ahli bid’ah dalam rangka memuliakannya maka dia telah ikut membantu menghancurkan Islam.”
    dan dimana ana bisa temukan hadist tsb.

    Jazakallah khairan katsiro

      • Arif Syarifudin
      • Mei 7th, 2010

      Hadits yang ditanyakan dengan lafazh berikut:
      (( مَنْ أَتَى صَاحِبَ بِدْعَةٍ لِيُوَقِّرَهُ فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ اْلإِسْلاَمِ ))
      “Barangsiapa mendatangi ahli bid’ah dalam rangka memuliakannya maka ia telah ikut membantu menghancurkan Islam.”
      Dibawakan oleh Ibnu Wadhdhaoh dalam kitabnya “al Bida’ wa an Nahyu ‘anha” (I/126, hadits no. 115).
      Asy-Syathibi menukil darinya (Ibnu Wadhdhoh) dan lainnya dalam kitabnya “al-I’tisham” (I/100 – tahqiq Syaikh Slaim al-Hilaly) dari hadits ‘Aisyah –رضي الله عنها-.
      Dan dengan lafazh lain yaitu:
      (( مَنْ وَقَّرَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ اْلإِسْلاَمِ ))
      “Barangsiapa memuliakan ahli bid’ah maka dia telah ikut membantu menghancurkan Islam.”
      Diriwayatkan oleh ath Thabarani dari hadits Abdullah bin Busr  dan al Baihaqi hadits Ibrahim bin Maysaroh secara mursal . Al Ajurri dalam kitab asy Syari’ah (hadits no. 1968 dan 1969) meriwayatkannya dengan sanadnya dari dua jalur dari hadits ‘Aisyah – رضي الله عنها.
      Ada juga dari hadits Mu’ad bin Jabal  dari Rasulullah  dengan lafazh:
      (( مَنْ مَشَى إِلَى صَاحِبِ بِدْعَةٍ ….. ))
      Diriwayatkan oleh ath Thabarani.
      Diriwayatkan pula oleh yang lainnya, baik dari hadits ‘Aisyah, Abdullah bin Busr dan Mu’adz bin Jabl .
      Secara umum hadits di atas pada masing-masing sanadnya ada kelemahan. Tapi dari keseluruhan jalur-jalurnya yang banyak menjadikan hadits ini naik ke derajat hasan atau shahih.
      [Lihat Takhrij al Misykah oleh Syaikh al-Albani (I/66) dan ta’liq Syaikh Salim al Hilaly atas kitab al-I’tisham karya asy Syathibi (I/100)].
      Wallahu A’lam.

    • Abu Luqman
    • Mei 7th, 2010

    السلام عليكم ورحمة الله وبركات

    Jazakallah khairan katsiro, semoga Allah azza wa jalla menambahkan ilmu dan kebaikan untuk ustadz.

    afwan ustadz ana mau tanya lagi, apakah yang dimaksud ijma sahabat dan apakah dapat kita terima ijma setelah ijmanya para sahabat ?

      • Arif Syarifudin
      • Mei 17th, 2010

      Alhamdulillah, yang dimaksud ijma’ shahabat adalah kesepakatan dari para mujtahid di masa shahabat sepeninggal Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam suatu hukum syar’i.
      Ijma’dari para mujtahid setelah shahabat bisa diterima menurut pendapat jumhur. Dan sebagian berpendapat tidak ada ijma’ kecuali ijma’ shahabat, sebagaimana pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat darinya dan Zhahiriyyah. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa Ijma’ yang bisa dipegang adalah ijma’ yang terjadi pada masa as-Salaf ash-Shalih (yakni tiga generasi utama: Shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in) karena masa setelah mereka perselisihan semakin banyak dan umat semakin menyebar (ke berbagai penjuru dunia). Inilah pendapat yang dirajihkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin. (Lihat risalah “al-Ushul min ‘ilmi al-Ushul ” karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).
      Wallahu A’lam bish-shawab.

    • Ardi
    • Mei 15th, 2010

    Assalamualaikum,
    Ustadz, masalah demokrasi atau berpolitik apakah bukan ijtihadiyah, karena kalau saya lihat ulama di negara kita banyak juga yg berpolitik/demokrasi. Bahkan tidak tanggung-tanggung beberapa di antaranya adalah tokoh yg sudah menyandang gelar doktor , dan setahu saya justru ada yang doktor alumni Madinah yang secara keilmuan sudah sampai jenjang tertinggi, apalagi dari universitas yg menjadi kiblat atau pusat ilmu syar’i yang terpercaya. Tentunya pengetahuan dan pemikiran (ijtihad) beliau ini bisa dikatakan sudah setingkat dengan para ulama di Timur Tengah?
    Mohon maaf kalo kata-kata ada yg salah.
    Wassalamualaikum

      • Arif Syarifudin
      • Mei 17th, 2010

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah.
      Alhamdulillah…
      Akhi al-karim, saya ingin sampaikan suatu kebenaran sebatas ilmu yang ada pada saya-. Di dalam Islam politik itu ada, tetapi pilitik yang dibangun di atas asas syari’at yang mulia (yang dikenal dengan siyasah syar’iyyah) dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menulis tentang masalah ini dalam kitabnya yang bermanfaat yaitu kitab “as-Siyasah asy-Syar’iyyah”. Adapun politik yang ada di negeri kita dan di banyak negeri yang lainnya adalah politik yang dibangun di atas asas demokrasi, sementara demokrasi bukan dari Islam dan tidak ada kesamaannya dengan asas Syuro yang ada dalam Islam, karena Syuro dalam Islam dilandasi oleh syari’at dan ta’awun ‘ala al-birri wa at-taqwa. Demokrasi sebagaimana yang diinginkan oleh pencetusnya dari kalangan non-Muslim adalah suatu sistem “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”. Sehingga hukum yang dipakai dalam sistem demokrasi ini ditentukan oleh rakyat dalam pengertian dari manusia, bukan hukum yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Rakyat (manusia) yang memutuskan bukan Allah dan Rasul-Nya, padahal setiap kepala dari mereka punya kehendak yang berbeda-beda sehingga timbullah perselihihan dan perseteruan di antara mereka dan melalui berbagai partai politik yang disandang masing-masing, bisa saling menjegal dan menjatuhkan, karena setiap dari mereka menghendaki partainya yang menang. dan bahkan bisa jadi kedustaan pun merupakan suatu hal yang menjadi biasa dalam dunia politik seperti ini….dan begitu seterusnya sebagaimana fenomena yang kita lihat di negeri kita dan negeri2 lainnya.
      Adapun yang antum katakan bahwa ada ulama di negeri kita ikut terjun dalam dunia politik demokrasi, maka ulama yang bagaimana dulu? Seorang ulama rabbani yang mukhlish insya Allah tidak akan menerjunkan dirinya dalam hal seperti itu. Kalaupun disebut sebagai ulama maka perbuatannya semata tidak menjadi dalil, setinggi apapun level keilmuannya. Karena perbuatan dan perkataan seseorang dari manusia tidaklah menjadi dalil atau hujjah, kecuali perbuatan dan perkataan Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Selain Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak ada seorang pun dari manusia yang ma’shum. Wallahu Ta’ala A’lam. Wa Hua Waliyyu at-taufiq wa as-sadad.

        • iwan
        • Mei 18th, 2010

        Alhamdulillah mendapat pencerahan….
        Ustadz apakah kehinaan negeri2 yang menerapkan sistem demokrasi adalah karena demokrasi bukan dari Islam, sebagaimana Umar bin Al Khattab pernah mengatakan “Kami dulu adalah kaum yang paling hina maka Allah memuliakan kami dengan Islam. Selama kami mencari izzah (kemuliaan) dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kami.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadroknya, 1/130. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib: 2893).

    • dwi
    • Mei 17th, 2010

    Assalamualaikum ust,
    ustadz, ana ada 3 pertanyaan:
    1. bukankah saudara ipar bukan termasuk mahrom? lantas bagaimana sikap kita melindungi aurat (khususnya bagi akhwat) manakala kita hidup dalam satu rumah dengan saudara ipar??
    2. bagaimana hukumnya seorang akhwat bepergian/safar tanpa ditemani mahrom laki2 dalam rangka menuntut ilmu/kuliah??
    3. siapakah yg dimaksud budak pada zaman salaf dihubungkan dengan zaman sekarang??

    demikian ustadz, mhn penjelasannya dgn dalil

    jazakallah khoiron katsiro

      • Arif Syarifudin
      • Mei 19th, 2010

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah,
      Alhamdulillah…
      1. Benar, saudara ipar bukan termasuk mahram bagi seorang wanita. Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah bersabda,
      ((اَلْحَمْوُ الموت))
      “Saudara/kerabat (laki2) suami -ibarat menemui- kematian/kebinasaan.” (Hr. al-Bukhari dan Muslim dari ‘Uqbah bin ‘Amir رضي الله عنه)
      Al-Hamwu dalam hadits tersebut maksudnya adalah kerabat sang suami yang lk2 seperti saudara lk2nya (ipar)beserta anak2nya yang lk2, paman (dari ayah atau ibu suami) beserta anak2nya yg lk2, apalagi yang lebih jauh hubungan kerabatnya.
      Dalam keadaan tidak dapat menghindari kondisi yang ditanyakan, maka seorang wanita hndaknya selalu menjaga dirinya dengan hijabnya (menutup auratnya secara sempurna sesuai syariat), dan dalam berkomunikasi dengannya sesuai batas2 syariat sehingga tidak membuka pintu bagi syaithan dan terhindar dari fitnah.
      Jika hal itu dirasa blm cukup untuk mengantisipasi fitnah maka hendaknya sang suami memikirkan agar dapat tinggal secara terpisah sehingga istri lebih leluasa di dalam rumahnya, bila hal itu memungkinkan maka itu yang terbaik.
      2. Seorang wanita tidak boleh safar/bepergian jauh tanpa ditemani mahramnya sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم
      لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ ….. الحديث
      “Janganlah seorang wanita bersafar kecuali ada bersamanya mahramnya.” (Hr. al-Bukari dan Muslim dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما)
      Meskipun itu adalah safar dalam rangka ketaatan, sebagaimana kelanjutan dari hadits di atas, dimana ada seorang laki2 bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم ” Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi berhaji sementara aku telah diwajibkan mengikuti perang ini dan itu …” Maka Rasulullah صلى لله عليه وسلم berkata kepadanya, “Pergilah kamu berhaji menemani istrimu.”
      Maka jika seorang wanita harus pergi menuntut ilmu dengan bersafar maka hendaknya ditemani oleh mahramnya.
      3. Budak adalah seseorang yang mengalami ketidakkuasaan secara hukum (yang bersifat sementara) yang disebabkan oleh kekufuran (perbedaan agama dengan tuannya). Dihasilkan dari pembagian ghanimah (berupa tawanan perang yang terjadi antara dua pasukan yang berbeda agama -seperti antara muslimin dan nashara-) atau dihasilkan dari jual-beli. Dan itulah budak yang diperbolehkan dalam Islam, karena tidak boleh seorang muslim memperbudak saudaranya. Justeru sepatutnya dia memerdekakan budaknya bila dia masuk ke dalam Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat رضي الله عنهم serta generasi setelahnya dari as-Salaf ash-Shalih.
      Adapun saat ini bisa dikatakan hampir tidak diketahui wujudnya, meski tidak menutup akan terjadinya bersamaan dengan kemungkinan terjadinya peperangan antara kaum muslimin dengan orang2 kafir di masa kapanpun.
      Untuk referensi silahkan baca misalnya kitab “Syarah Akhsharil Mukhtasharat” oleh Syaikh Abdullah al-Jibrin dalam bab “Muqaddimat li Ahkam al-‘Itqi” dan kitab-kitab fikih pada umumnya.
      Wallahu A’lam bish-shawab.

      Wallahu A’lam.

    • Dwi
    • Mei 18th, 2010

    ustadz, bagaimana caranya yang syar’i mengubah sistem demokrasi menjadi sistem siyasah syar’iyyah dan bagaimana pula hukumnya menerjunkan diri dalam politik demokrasi dgn tujuan mengubah sistem ini menjadi sistem siyasah syar’iyyah??
    dan bagaimana pula korelasinya QS Ar Ra’du :11 mengenai perintah berikhtiar untuk mengubah nasib dengan ikhtiar meraih sistem siyasah syar’iyyah??

    mohon desertakan dalil dan contoh para salaf dalam ikhtiarnya shg sistem siyasah syar’iyyah dapat terbentuk pada zaman salaf.

    jazakallahu khoir

    • iwan
    • Mei 18th, 2010

    Assalamu’alaikum ustadz,
    Ustadz…lebih utama yang mana ketika mendengar suara adzan, menjawab adzan terlebih dahulu sampai selesai dan bersholawat atau ketika adzan mengambil air wudhu?
    Jazakallah khairan katsiro

      • Arif Syarifudin
      • Juli 22nd, 2010

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah …
      Alhamdulillah, menanggapi pertanyaan akhi iwan di atas, menjawab adzan terlebih dahulu secara khusyu’ kemudian berwudhu, ini yang lebih utama, karena dengan cara seperti itu antum dapat mendapatkan dua maslahat sekaligus. Berbeda ketika antum berwudhu pada saat adzan dikumandangkan, tentu akan ada satu kemaslahatan yang ditinggalkan. Wallahu A’lam.

    • Abu Rufaidah
    • Juli 24th, 2010

    Assalamu’alaikum ustadz,

    Ustad saya umpamakan Ada seseorang yang akan mendaftar untuk melaksanakan ibadah haji, misalnya dari berau, kaltim, kemudian didapat informasi bahwa dia diperkirakan akan dapat berangkat 8 tahun kemudian (th 2018). Kemudian dia mendapat informasi bahwa apabila mendaftar melalui jogja dapat berangkat 3 tahun kemudian (2013), karena dia penduduk berau (KTP Berau), maka apabila akan mendaftar melalui Jogja, maka yang bersangkutan harus berKTP jogja, untuk mendapatkan KTP sebagai syarat kelengkapan untuk mendaftar Haji tersebut dilakukan dengan cara tidak melalui prosedur yang ada (“nembak”). bagaimana hukum permasalahan tersebut? dan bagaimana pula status ibadah hajinya sah atau tidak? Syukron ustadz

    • Abu Husain
    • Juli 28th, 2010

    Assalamu’alaikum ustadz

    Dalam melaksanakan suatu ibadah yang sesuai dengan sunnah, terkadang dalam hati kita ada unsur riya’ nya. kemudian setelah selesai melaksanakan ibadah tersebut beberapa waktu kemudian kita menyadari dan kemudian kita bertobat kepada Allah atas riya’ yang dilakukan tersebut, dan berharap ibadah tersebut dapat diterima oleh Allah subhanahuwata’ala. Dapatkah ibadah yang kita laksanakan tersebut di terima? padahal syarat di terimanya amal adalah ikhlash dan sesuia dengan sunnah? dapatkah kita meng ikhklaskan amal kita setelah ibadah tersebut dilakukan? Syukron ustadz

    • iwan
    • Juli 30th, 2010

    Assalamu’alaikum ustadz…
    Saya pernah membaca perkataan Ibnu ‘Umar dan Hafshah radhiyallahu ‘anhum yang artinya, ‘“Siapa yang tidak berniat puasa sejak malamnya, maka tidak ada puasa baginya”. Yang ingin saya tanyakan bagaimana kedudukan perkataan tersebut? dan apa maksud perkataan tersebut? Jazakallahu khoir…

    • Hidayat
    • Agustus 10th, 2010

    Assalamu’alaikum ustadz

    Ustadz dalam kehidupan kita sering kita jumpai orang atau bahkan suadara kita yang mempunyai IQ di bawah rata-rata (bukan gila), sehingga, dia tiadak melaksanakan sholat, karena tiadak sampai akalnya, tetapi karena fisiknya kuat, kalau puasa romadhon bisa melaksanakan puasa, tetapi untuk amal-amal yang lain tidak bisa ia lakukan, bahkan menghitung 1 sampai 10 saja tidak mampu. bagaimana hukumnya, ketika dia tidak bisa menjalankan kewajiban agama? dan bagaimana statusnya di akhirat nanti apakah masuk golongan orang mu’min atau kafir? jazakallah khoiron

    • Hamba Allah
    • Agustus 17th, 2010

    Assalamu alaikum ustadz.
    Afwan ana ingin bertanya, bagaimana jika seorang penuntut ilmu jarang menghadiri ta’lim? Dia menghabiskan waktu dengan banyak membaca buku atau kitab-kitab para ulama. Alasannya karena tempat kerja penuntut ilmu itu jauh dari tempat ta’lim. Sementara ana pernah membaca perkataan Syaikh Utsaimin bahwa, penuntut ilmu yang belajar hanya dari kitab/buku, maka dia akan banyak salahnya.

    Bgmana saran atau pendapat ustadz mengenai permasalahan ini? Jazakallahu khoiran

    • Abu Rizky
    • Desember 10th, 2010

    Assalamu’alaikum P Ustadz.
    Bagaimana tindakan kita sebaiknya jika ternyata perusahaan tempat kita bekerja adalah milik non muslim atau yahudi?
    sukron P Ustadz

    abu rizky…

    • Abu Luqman
    • Maret 18th, 2011

    Assalamu ‘alaikum ustadz,

    Saya mau tanya tentang shalat jama’ qoshor, yaitu sbb :

    Saya pernah safar pa kebetulan hari jum’at, pertanyaannya ,

    Bolehkah saya menjama’ qoshor Shalat Jum’at dengan Ashar ?

    Demikian ustadz pertanyaannya, Jazakallahu khair.

    Abu Luqman

    • Abu Afifah
    • Maret 23rd, 2011

    Assalamu’alaikum Ustadz.

    Barokallahufik, afwan ustadz ana meneruskan pertanyaan dari salah satu ikhwan, begini ustadz, ada seorang mualaf yang sudah mengikrarkan shahadat, kepada beberapa orang ikhwah (yang tahu kalau dia muslim baru beberapa orang), tetapi belum ada dokumen yang tertulis, dan keluarga yang bersangkutan juga belum tahu, hampir semua keluarga dekatnya non muslim. Qodarrullah, mualaf tersebut meninggal dalam waktu yang tidak lama dari ikrr syahadat tersebut, dan belum sempat melaksanakan sholat, dan oleh keluarganya dilakukan pengurusan jenazah dengan cara agama keluarganya. Bagaimana sikap kita yang tahu dia muslim (hanya beberapa orang saja) terhadap jenazah tersebut? Syukron ustadz atas jawabannya. dan semoga ustadz diberi kelonggaran waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung blok ini yang sudah lumayan banyak.Amin

    Wassalamu’alaikum

    Abu Afifah – Tanjung Redeb

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s